Jumat, 29 Desember 2023

MENDADAK MENJADI ORANG KAYA

 


"Reyhan, mana setoran hari ini!"
Aku mengeluarkan beberapa lembar rupiah dari kantong celana.
"Lama amat!" Tante Atik mengambil paksa uang hasil kerja kerasku berdagang di pantai.
"Cuma segini!" hardik Tante Atik.
"Pantai sepi, Tan. Kan hari ini bukan hari libur," jawabku.
"Kalau setiap hari segini, adikmu yang lumpuh itu mau aku kasih makan apa! Ingat ya sepanjang hari aku yang mengurus adikmu itu! jangan jadi lelaki pemalas!" Tante Atik berlalu dari hadapanku dan masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya tak rela di perlakukan seperti ini oleh Tante Atik, padahal rumah ini adalah rumah kedua orang tuaku yang terdiri dari tiga kamar.
Kamar orang tuaku di tempati olehnya sementara kamarku di tempati oleh anak perempuannya yang usianya sama dengan adikku, Kayna yaitu lima belas tahun. Tapi anak perempuannya bertubuh tambun yang setiap saat mengunyah untuk mengisi lambungnya.
Jika tak melihat Kayna yang sakit, mungkin aku akan membawa Kayna pergi dari kehidupan Tante Atik, yang merupakan sepupu dari papa.
Tapi nasib baik belum berpihak padaku, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan ketika hendak mengantarkan Kayna masuk ke Islamic Boarding School yang berada di kota Pekanbaru. Ketika melewati jalan tol sebuah kecelakaan terjadi, kedua orang tuaku tewas seketika, sementara Kayna terluka parah.
Biaya pengobatan Kayna yang tak sedikit serta mengganti mobil rental yang telah hancur, terpaksa kebun sawit dua hektar di jual Tante Atik. Ternyata sawit dua hektar belum juga cukup untuk melunasi hutang rumah sakit. Secara suka rela Tante Atik menjual rumahnya.
Awal aku sangat beruntung bisa dibantu oleh Tante Atik, karena rumah mereka di jual, mereka pun tinggal di sini. Lama kelamaan sikap Tante Atik berubah, kini ia menguasai rumah ini. Jika aku sedikit memberontak, ia selalu mengungkit-ungkit jasanya.
Karena itulah, aku yang baru duduk di bangku kuliah tingkat dua harus berhenti dan terpaksa menjadi tukang parkir di pantai demi memenuhi kebutuhan Kayna.
Cacing di perutku menari-nari, aku lupa malam ini belum makan sedikit pun. Aku melangkahkan kaki ke dapur hendak mengambil makanan.
Melihat tudung saji, ada sepotong ayam balado. Hatiku girang, aku mengambil nasi yang banyak dan akan makan berdua dengan Kayna. Karena aku tau Tante Atik hanya memberi Kayna nasi putih tanpa lauk.
Tangan kananku hendak mengambil sepotong ayam balado, tiba-tiba Pera--anak perempuan Tante Atik mengambil sepotong ayam balado.
"Ini punyaku, Rey. Kau makan saja yang itu," ucap pera sambil menunjuk sebuah piring yang berisi tempe goreng dua potong.
"Hey, Pera. Kau tak lihat badan kau seperti apa!"
"Emang seperti apa?"
"Seperti balon udara!" ucapku sambil mengambil paksa ayam goreng balado dari tangannya.
Melihat ayam gorengnya berpindah tangan, ia pun menangis sambil berteriak hingga Tante Atik keluar dari kamarnya.
"Kanapa, Pera?"
"Mami! ayam Pera diambil si Rey."
"Rey!" hardik Tante Atik.
"Kenapa kalian selalu makan yang enak, sementara aku dan Kayna selalu saja makan tempe."
"Itu karena kau sedikit setor padaku!"
"Suruh Om Beni bekerja, jangan aku saja yang menjadi tulang punggung kalian!" suaraku mulai meninggi.
"Dasar kau, anak tak tahu berterima kasih. Baik, kalau kau mau hitung-hitungan. Bayar semua hutang-hutang kedua orang tuamu!"
Aku terdiam sesaat.
"Kau tak sanggup, bukan. Harusnya kau berterima kasih padaku telah memeliharamu serta adikmu yang tak berguna itu."
Hatiku memanas mendengar Tante Atik yang selalu menghina Kayna.
"Kalau aku mau, aku akan mengusir kalian dari sini. Ingat! biaya rumah sakit semuanya itu karena menjual rumahku, kini rumah ini milikku!"
Sambil mengepal kedua tanganku, aku keluar dari rumah menuju pantai yang jaraknya tak berapa jauh.
Langkahku terhenti sesaat lantas membalikkan tubuhku melihat rumah berwarna ungu.
Masih lekat diingatkanku, bagaimana kedua orang tuaku membeli tanah di dekat pantai dan membangun rumah impian mereka.
Aku memejamkan kedua mataku, hatiku geram melihat tingkah Tante Atik.
Pekat malam dihiasi bintang-bintang yang bertengger di atas sana. Deru ombak malam itu menari-nari hingga desiran pasir putih itu ikut terseret arus.
Tak ada yang dapat aku lakukan sekarang. Yang tersisa hanya sebuah sakit hati yang mendalam.
Aku merebahkan tubuhku di atas batu besar. Mataku tertuju pada bintang-bintang yang menerangi malam.
Semilir angin sepoi-sepoi menghinggapiku seketika rasa rindu hadir di hatiku.
Masih membayangkan wajah orang tuaku, aku terperanjat mendengar suara orang menangis lantas berteriak.
Aku terduduk dan melihat seorang gadis menggunakan gaun berwarna biru muda dengan rambut lurus tergerai hingga ke pinggang.
Gadis itu tak berhenti menangis, kedua tangan menutup wajahnya.
Cahaya lampu sorot yang berada di pantai membuat aku bisa melihat gadis itu yang jaraknya tak berapa jauh dariku.
Ketika ia melepaskan kedua tangan dari wajahnya, aku pun terperangah melihatnya.
Walau dalam keadaan menangis tapi tak membuat kecantikannya memudar.
Ia berteriak sekali lagi sambil melepaskan sebuah cincin dan melemparkannya ke bibir pantai.
Aku berdiri hendak mendekati gadis itu, tapi gadis berwajah indah itu beranjak pergi, ia berlari sekuat tenaga dan masuk ke sebuah mobil mewah.
Aku penasaran, kenapa gadis itu membuang cincinnya.
"Bisa jadi sedang putus cinta. Duh sayangnya, cantik-cantik di tinggal pergi."
Aku berjalan ke pinggir pantai hendak menemukan cincin itu, padahal aku sangat yakin tak akan menemui cincin itu. karena arus ombak sudah tentu telah menyeret cincin itu.
Dugaanku salah, aku melihat sebuah kilauan yang berada di tumpukan pasir putih, ternyata kilauan itu berasal dari sebuah permata cincin.
Aku mengambil cincin itu dan melihatnya secara saksama.
"Permata biru, cincin ini indah sekali."
Aku melihat ke arah jalan, ternyata mobil mewah yang dikendarai gadis itu telah pergi meninggalkan pantai.
Melihat cincin perak dengan permata biru aku jadi teringat Kayna.
"Kira-kira cincin ini laku gak ya di jual?"
Sambil memperbaiki letak topi aku pun kembali duduk di atas batu. Seketika aku pun teringat akan Bang Jarvis, yang mempunyai toko emas.
Aku mempercepat langkahku, biasanya Bang Jarvis jam segini berada di kedai kopi Pak Kelik.
"Mudah-mudahan Bang Jarvis ada di sana."
Napasku ngos-ngosan memburu waktu, ternyata usahaku tak sia-sia, aku melihat Bang Jarvis duduk di salah satu meja sambil mengobrol dengan temannya.
"Bang," panggilku.
Bang Jarvis melambaikan tangannya padaku.
Aku mendekatinya lalu berbisik sesuatu ke telinganya.
Ia mengerutkan dahi lantas berdiri dan menjauh dari keramaian orang.
"Dari mana kamu dapat ini, kamu mencuri ya," ucap Bang Jarvis sambil melihat cincin itu.
"Sumpah, Bang. Rey tak mencuri, tadi ada gadis yang membuang cincin ini sambil nangis."
Bang Jarvis mengangguk-mengangguk.
"Kita ke toko," ucap Bang Jarvis.
Sesampai di toko, Bang Jarvis melihat cincin itu menggunakan luv atau kaca pembesar. Tiba-tiba matanya membesar. Lantas mencoba memeriksanya lagi.
"Kenapa Bang?" tanyaku ketika melihat perubahan mimik wajahnya.
Bang Jarvis hanya tertawa lalu memeriksanya sekali lagi.
"Lima juta, ya."
Mataku membesar mendengar lima juta, terbayang di benakku untuk membawa Kayna terapi.
"Beneran lima juta?" tanyaku tak percaya.
"Iya, tapi uangnya besok pagi."
Aku kegirangan lantas mengambil cincin itu dan menciumnya.
"Alhamdulillah," ucapku.
"Cincin ini tinggal aja, ya Rey."
"Gak bisa gitu, Bang. Ada duit ada barang hehehe."
Bang Jarvis pun ikut tertawa.
"Aku pulang dulu, besok pagi ke sini lagi."
Hatiku benar- benar senang, ternyata barang yang buang gadis itu sangat berharga.
"Yes," ucapku sambil mengangkat kedua tangan. Tak sadar topiku terjatuh.
Baru berjalan beberapa meter, aku pun tersadar ternyata topiku jatuh tepat di depan toko Bang Jarvis. Aku berbalik arah hendak mengambil topi hingga aku mendengar Bang Jarvis sedang berbicara melalui ponselnya.
"Aku yakin ini berlian langka. Harga jual mencapai ratusan miliar."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar