Senin, 25 Desember 2023

DIKIRA JURAGAN IKAN, TERNYATA TENTARA TAMPAN

 

"Lepasin itu." Ekor mataku melirik ke arah ujung rok yang masih ditarik Alta.
Spontan laki-laki itu melepaskan, lalu tangannya dikibas. Seolah menghempaskan debu atau kotoran. Sialan.
"Mas Alta, udah nggak sabar, ya?" Tante Isma melirik putranya dengan tatapan menggoda.
Tentara juragan ikan itu hanya diam tak menanggapi sama sekali. Tapi kulihat dari gesturnya salah tingkah.
Tanpa bicara aku melenggang menuju dapur. Di sana, aku tidak tenang. Masih terbayang wajah tampan juragan ikan. Pesonanya sungguh tak tertandingkan. Baru kali ini hatiku dibuat penasaran.
Kakiku bergegas cepat ke kamar. Kuambil ponsel di atas meja rias. Segera kuhubungi Nina. Dia harus tau laki-laki yang akan dijodohkan denganku adalah seorang tentara.
Baru saja mau menekan kontak Nina, ponselku bergetar. Panggilan masuk dari nomor Pak Revan. Ck. Mau apa lagi si bujang karatan?
Aku membiarkan panggilan hingga berhenti sendiri. Setelahnya langsung kutelepon Nina. Panggilanku pun tersambung.
"Nin, tau nggak ternyata yang dijodohkan sama aku itu tentara." Aku menyerocos tanpa titik koma saking bahagia.
"Ha? Apa, Sel? Sorry, tadi handset-ku copot. Aku nggak denger." Nina menimpali di ujung sana diikuti suara seperti ribut-ribut.
"Kamu di mana sekarang?" tanyaku penasaran.
"Heh, kamu amnesia? Aku dari tadi nungguin kamu di Kafe Pelangi. Buruan ke sini."
Aku seketika mendengkus kasar. Ah iya, tadi lupa kasih tau Nina kalau aku tidak jadi ketemuan dengan dia. Gara-gara tentara juragan ikan itu bikin aku mendadak hilang ingatan.
"Sorry, Nin. Aku tadi lupa kabarin kamu. Aku nggak jadi ke sana. Soalnya di sini lagi ada juragan ikan."
Dengan cepat Nina menimpali, "Hah? Kamu udah mau sama si juragan ikan itu? Wah, jangan-jangan kamu udah kena pelet ikannya, Sel."
"Sembarangan kamu." Aku tertawa. "Ternyata dia bukan juragan ikan biasa, Nin. Dia itu tentara. Cuakeeep polll."
"Lah, kok bisa?"
"Aku juga nggak tau, Nin."
"Eh, Nin. Sarannya dong biar Alta itu jatuh cinta sama aku. Soalnya tadi aku udah hina dia di depan keluarganya," lanjutku lagi mengiba.
"Mampus nggak tuh," omel Nina di seberang sangat puas.
"Lah, kok malah gitu sih, Nin?"
"Habisnya kamu itu terlalu sok jual mahal. Tobat, sekarang kena tulah. Gantian kamu yang ngejar juragan ikan itu."
Aku kembali berdecak. "Dahlah, jangan banyak omong. Cepetan kasih aku ide biar Alta itu jadi suka."
Nina sejenak diam. Tak lama, dia memberiku sebuah ide. "Dia masih lama nggak? Kalo masih lama, biar aku kirimin kamu kue. Bilang aja itu kue buatanmu. Kali aja dia jadi jatuh cinta. Secara, jaman sekarang kebanyakan cewek nggak bisa apa-apa. Bisa jadi nilai tambah buat kamu."
Senyumku mengembang. Ide Nina kali ini sangat briliant. Di luar prediksi BMKG. Aku suka. Kujentikan jari sebagai tanda setuju.
"Gimana? Mau nggak?"
Belum juga menjawab pertanyaan Nina, Mama sudah masuk kamar. Beliau menatapku heran sambil menjewer telinga.
"Sa-sakit." Tangan satuku berusaha melepaskan tangan Mama dari telinga.
"Selin, kamu lagi ngapain sih? Pake kesakitan segala. Kamu sama juragan ikan itu nggak lagi ngapa-ngapain kan?" Nina terdengar penasaran.
"Nanti aku lanjut lagi, ya, Nin. Bye." Langsung kumatikan telepon.
Mama masih berdiri di depan dengan tangan berkacak pinggang. "Ini anak, disuruh bikin minum buat calon suami sama calon mertua malah asyik nelepon di kamar."
"I-iya, Ma." Aku lari terbirit-birit ke dapur. Gegas kubuat minuman untuk Alta dan orang tuanya.
"Maaf, Tante, Om. Selin kelamaan di dapur," ucapku sambil menghidangkan teh melati di meja.
Sekilas kulihat mamanya Alta menyunggingkan senyuman. "Nggak papa, Sayang."
Sementara Alta hanya diam dan fokus memandangi ponsel. Ih dasar, laki-laki tapi sok jual mahal.
"Tante sama Om jangan dulu pulang, ya. Selin mau bikinin kue." Aku berdiri sambil membawa nampan dan bertingkah sok lugu.
Spontan Mama kaget. "Kamu mau bikin kue, Selin?"
Beliau memang tau anaknya ini tidak bisa apa-apa. Jangankan bikin kue, masuk dapur saja Senin Kamis.
Langsung kukedipkan mata pada Mama sebagai kode. Beliau pun sepertinya mengerti.
"Tuh, Mas. Cewek pilihan Mama nggak salah, kan? Selain cantik, dia pinter bikin kue. Kurang apa lagi?" Kudengar Tante Isma berbicara dengan Alta. Sayangnya tak ada tanggapan apa-apa dari anaknya
Aku kembali lagi ke dapur. Langsung kukontak Nina untuk segera membawakan kue ke rumah. Menunggu cukup lama, sahabatku itu datang. Dia menerobos dapur melalui pintu belakang.
"Semoga berhasil, ya," bisik Nina sambil menyodorkan sekotak roll chese.
Segera kudorong tubuhnya agar menjauh. "Dah, sana pergi. Nanti ketahuan."
Aku buru-buru menutup pintu dan langsung memotong kue favoritku di atas piring panjang. Ketika mau mengangkat piring tersebut, Alta mendadak datang.
"Mana kamar mandinya?"
Aku menunjuk dengan dagu ke arah yang dimaksud karena tanganku sedang membawa piring berisi kue.
Sialnya, mata Alta justru salah fokus pada barang yang kupegang. Seketika dia tertawa. "Wah, ternyata kamu pesulap juga ya. Baru dibilang langsung jadi kuenya."
Aku menyangkal. "Ye, enak aja. Sebelum kamu datang, aku udah baking, kok."
Tawa Alta makin kencang. "Lain kali kalo mau ngibul itu yang pinter ya. Minimal buang dulu itu kotak kue yang kamu beli. Haha!" Pandangannya mengarah pada kotak yang masih ada di atas meja makan.
Aku gemas. Spontan kuletakkan kembali piring ke atas meja. "Kamu itu mau ngapain sih di sini? Sana, ke kamar mandi. Nanti keburu keluar di sini. Jijay."
"Kamu itu yang jijay. Cantik juga nggak, tingkahnya nauzubillah."
Aku makin kesal. "Kalo aku nggak cantik, kenapa juga mau dijodohin sama aku? Berarti kamu nggak laku."
Ujung bibir Alta naik hingga membentuk senyum sinis. "Nggak laku? Mau aku tunjukin seleraku?"
Laki-laki itu nampak merogoh saku celananya. Lalu mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto padaku. "Nih! Lebih cantik dia, kan?"
Ikuti terus cerita ini ya. Makasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar