Jumat, 28 Agustus 2020

Dwayne Johnson pamer kostum black adam

2.912. INFO FILM
.
Pada bagian lengan dan tulang kering terdapat pelindung, kemudian pada bagian dada terlihat logo petir berwarna kuning.
.
"Pria berpakaian hitam datang untuk menghancurkan mereka semua," penggalan penjelasan Johnson terkait video tersebut.
.
Setelah itu, aktor yang memiliki nama julukan The Rock ini juga mengunggah cuplikan film Black Adam. Video berdurasi satu menit itu menjelaskan asal-usul Black Adam.
.
Ia diceritakan berasal dari tempat bernama Kahndaq. Selain terdapat kehidupan manusia pada umumnya, pada tempat itu juga bersemayam kekuatan ajaib.
.
Kebanyakan penduduk di sana tidak memiliki apa-apa, bahkan mereka menjadi budak. Ketika Kahndaq membutuhkan pahlawan, yang muncul justru sosok Black Adam.
.
"Saya melakukan sesuatu yang perlu diselesaikan, dan mereka memenjarakan saya karena itu. Saat ini, lima ribu tahun kemudian, saya bebas, dan berjanji tidak akan ada yang menghentikan saya lagi," kata Black Adam.
.
Black Adam merupakan salah satu karakter DC Comics. Ia pertama kali muncul dalam komik The Marvel Family yang rilis pada Desember 1945 oleh penulis Otto Binder dan komikus C. C. Beck.
.
Tokoh bernama asli Theo Adam ini merupakan penjahat dan salah satu musuh Shazam. Ia memiliki kemampuan kekuatan, kecepatan, dan stamina di atas rata-rata.
.
Hingga kini, belum ada sinopsis resmi film Black Adam dari rumah produksi Warner Bros. Namun, kemungkinan besar film itu akan menjadi genesis karakter Black Adam agar bisa masuk dalam seri film Shazam!.
.
Pada Juli lalu, aktor Noah Centineo dipastikan akan tampil dalam film Black Adam sebagai Atom Smasher. Ia memiliki kemampuan mengontrol struktur molekul, memanipulasi ukuran, kekuatan, serta daya tahan.
.
Karakter Atom Smasher sudah pernah muncul dalam waralaba serial televisi Arrowverse. Pada serial itu, Atom Smasher diperankan Brandon James Routh yang sebelumnya menjadi Superman dalam film Superman Returns (2006).
.
Black Adam disutradarai oleh Jaume Collet-Serra, sementara naskah ditulis oleh Adam Sztykiel. Film ini dijadwalkan rilis pada 2021 mendatang, tapi belum ada waktu pasti.
.
Sumber : cnnindonesia.com
.
#film #movie #movies #movienight #movietime #review #filmreview #moviereview #cinema #action #comedy #fantasy #scifi #historical #adventure #superhero #warnerbros #dc #blackadam #dwaynejohnson #therock #infofilm
.

Cium (Cerita Pendek)


penulis: Raditya Dika

Untuk dua orang yang sedang kencan pertama, berbagi cerita horor mungkin hal terakhir yang seharusnya mereka lakukan. Tapi, inilah yang terjadi dengan Oki dan Rahma. Inilah yang terjadi jika dua orang sudah kehabisan bahan obrolan.
Mereka berdua duduk di ruang tunggu kosan Rahma, sesaat setelah mereka nonton film di Epicentrum Walk. Kosan ini khusus putri, ibu kosnya galak, dan tamu laki-laki hanya boleh sampai di ruang tunggu. Tamu laki-laki bahkan tidak boleh memakai toilet, karena terakhir kali ada pacar seorang penghuni kos numpang buang air besar di toilet tamu, pintunya lupa dikunci. Si tamu sih asik aja jongkok menghadap ke depan pintu berjuang dengan hebat, tapi begitu ada perempuan, penghuni lain, membuka pintu itu, si tamu terkejut sampai berguling di lantai dan si perempuan menjerit membangunkan seisi kos malam itu.
Di atas sofa coklat kosan, dengan kaki naik ke atas, Rahma mulai membuka cerita horor. Cerita yang standar saja, tentang bagaimana Rahma dulu, sewaktu kecil, pernah melihat sosok perempuan berbaju putih melayang di depan jendela kamarnya. Cerita horor tentang penampakan, yang sering kita lihat di forum internet, blog, artikel, yang sering kali kita pertanyakan: nyata atau tidak.
‘Kalau kamu? Ada gak cerita horor?’ tanya Rahma, ingin gantian mendengarkan.
‘Kenapa harus banget cerita horor jam segini?’ tanya Oki, melihat ke arah jamnya. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Rahma merajuk. ‘Film yang kita tonton tadi kurang seram. Aku mau yang seram.’
‘Aku gak tahu ini seram atau tidak, tapi aku ada cerita,’ kata Oki. ‘Masalahnya cuma satu. Kalau aku udah cerita ini, kamu tidak bisa ceritain lagi ke siapa-siapa.’
Rahma mengangguk. ‘Aku janji gak bakal cerita ke siapa-siapa.’
Oki menegakkan duduk. Dia memandang ke wajah Rahma. Dia tersenyum tipis, lalu berkata, ‘Begini ceritanya…’

Aku sekolah di sebuah SMP swasta di Bandung. Waktu itu tahun 2005, ibuku baru saja meninggal, ditabrak mobil ketika dia mengantarkan aku naik motor ke tempat les Bahasa Inggris. Aku selamat, tapi aku mulai jadi anak yang pemurung. Tidak lama setelah itu, bapakku bangkrut dari usahanya, hidup keluarga kami jungkir balik. Hampir setiap minggu ayahku berkata, ‘Kayaknya, kamu bawa sial ke keluarga ini.’
Ayahku terlalu angkuh untuk memindahkan anaknya ke sekolah negeri. Jatuh miskin adalah hal terakhir yang ayah tidak izinkan orang untuk tahu tentang keluarga kami. Menutupi kegagalan perlu usaha lebih keras daripada mencari kesuksesan. Buat aku menutupi bekas pukulan dari ayahku, juga perlu usaha, agar tidak digosipkan oleh satu sekolah.
Di SMP aku berkawan dengan dua orang, yang pertama adalah Kevin, anak seorang pemilik tambak udang di Cirebon, dan Yudi, anak orang kaya yang latar belakang keluarganya masih menjadi misteri. Banyak orang yang bilang bapaknya koruptor, ada juga yang bilang mafia judi, tapi tidak ada yang tahu pasti. Buatku yang penting Yudi masih mau berteman denganku, meskipun di sekolah dia terkenal menyebalkan.
Sepulang sekolah, di bawah langit yang setengah mendung, Yudi bilang kepadaku, ‘’Oki,’ kata Yudi. ‘Mau ikut aku sama Kevin taruhan gak?’
‘Apa?’ tanyaku.
‘Kamu tahu Rumah Kelok?’ tanya Yudi.
‘Tahu,’ jawabku, singkat. Satu sekolah tahu Rumah Kelok, sebuah rumah tua di sebuah belokan, dekat pasar. Rumah itu sudah terbengkalai cukup lama, tidak ada yang tahu siapa pemiliknya, dan menjadi urban legend di bibir warga sekitar. Ada yang melihat sosok di jendela lah, ada yang mendengar jeritan perempuan lah, tapi tidak ada yang punya bukti pasti.
Yudi berkata serius. ‘Kata Aryo anak 3C, di halaman belakang Rumah Kelok, ternyata ada pintu menuju ruang bawah tanah. Mereka sempet iseng lihat-lihat kesana, ngebuka pintunya, dan ada patung cantik di situ.’
‘Patung cantik?’ tanya Kevin.
Yudi mengangguk.
‘Ada sebuah patung, tiduran, di lantai. Patung perempuan cantik. Tapi ya, kamu tahu lah anak 3C kan cemen-cemen, jadi mereka tidak berani turun, lalu pergi. Kata Aryo sih temannya ada yang asmanya kumat, makanya mereka tidak melanjutkan ke bawah. Tapi aku rasa itu cuma alasan.’
‘Terus kita ngapain?’ tanyaku.
‘Kita ke sana dulu saja.’ Yudi lalu melangkah pergi.

Kami memasuki Rumah Kelok melalui lubang di pagarnya. Ini adalah sebuah rumah tingkat dua, dari luar terlihat terlalu simetris, pintu di tengah dengan jendela berbentuk persegi panjang, memanjang ke bawah. Ketika kami memasuki pekarangan, hawa dingin langsung terasa. Bau lumut bercampur jamur terasa menusuk, masuk ke hidung. Ini jelas, rumah yang kesepian, pikirku.
Di halaman belakang rumah, betul, ada satu buah pintu baja yang tertanam di lantai. Yudi mencoba mengangkat pintu tersebut, namun dia kesulitan. Kami perlu bertiga untuk mengangkatnya. Ketika dibuka, langsung terlihat tangga menuju bagian bawah, sebuah ruang kosong lapang di bawah tanah. Kami bisa melihat dengan samar, ada sosok patung perempuan di dalamnya. Tiduran di lantai.
‘Aryo gak bohong,’ kata Yudi.
Aku menelan ludah. ‘Terus? Apa taruhannya?’
‘Kita gambreng aja, gak usah susah-susah,’ kata Yudi.
‘Yang kalah ngapain?’ tanya Kevin.
‘Yang kalah,’ kata Yudi, dia menoleh ke arah sosok patung di lantai. ‘Cium patung itu.’
‘Cium?’ tanya Kevin.
‘Cium. Di bibir,’ jawab Yudi.
‘Ya ampun masa kalau aku kalah ciuman pertamaku sama benda gak bernyawa?’ Kevin terlihat gusar. ‘Sedih amat nih bibir.’
Aku masih melihat patung itu, bentuknya tidak jelas, tapi aku bisa melihat kepalanya, sedikit terkena cahaya. ‘Itu gelap banget sih di bawah.’
Yudi mengeluarkan senter besar dari dalam tas punggungnya, senter merah merk AOKI berukuran jumbo, 15 watt. Yudi sangat niat.
‘Ya udah yuk,’ kataku.
Kami bertiga gambreng, dan seperti nasib yang sedang tidak ramah kepada keluargaku belakangan ini, hari ini pun aku ditimpa sial. Aku satu-satunya dengan telapak yang menghadap ke atas. Untuk gambreng saja aku tidak mampu menang.
Yudi memberikan senter kepadaku. ‘Semangat ya.’
Aku menuruni satu demi satu anak tangga. Bunyi langkah kaki perlahan menggema di ruangan gelap itu. Aku berdiri di depan patung tersebut. Dengan bantuan senter, semua terlihat jelas sekarang. Patung ini cantik sekali, seluruh badannya terbuat dari porselin berwarna putih pucat. Patung ini tidur lurus, mata putih semua, dengan mata yang lebih cantik dari artis sinetron mana pun. Seolah di sebuah dongeng, patung ini seperti seorang putri tidur, menunggu dibangunkan oleh seorang pangeran.
Aku melihat ke arah ujung tangga atas, di sana, Yudi dan Kevin melihat dengan penuh antisipasi. Ini mudah kok, pikirku, tinggal menempelkan bibir ke patung ini. Tapi kenapa aku merasa ragu? Melihatku yang diam saja, Yudi menjerit, ‘Jangan jadi orang cemen!’
Aku lalu menutup mata, secara perlahan aku mencium bibir patung itu. Rasanya dingin dan lembab. Rasanya seperti melakukan sesuatu yang salah. Dengan perlahan aku mengangkat kepalaku. Melihat ke arah patung. Mataku mengarah kepada sebuah kertas kecil yang dipasang di dada patung tersebut, kertas bertuliskan huruf kuno, seperti toge bungkuk yang dijajarkan dengan arah yang berbeda-beda. Aku mencopotnya, memerhatikan tulisan itu, lalu membuangnya ke lantai.
Aku berbalik, dan bersiap untuk pergi keluar. Tantangan sudah selesai. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu. Brak! Pintu jalan keluar ditutup oleh Yudi. Aku berlari ke ujung, menggedor pintu yang dia tutup. ‘Buka pintunya!’
Yudi tertawa. ‘Kamu nyantai dulu aja di situ, kami mau lihat-lihat rumahnya.’
‘Keluarin!’ Aku mulai panik. ‘Keluarin sekarang!’
‘Oki, santai aja, kami janji pasti balik kok. Cuma lihat-lihat sebentar,’ kata Yudi.
‘Paling lama setengah jam, Ki,’ kata Kevin. ‘Kami pasti balik.’
Mereka lalu berjalan menjauh. Aku bisa mendengar suara tawa mereka.
Aku berjalan perlahan ke bawah kembali, mencari jalan keluar lain, mengarahkan senter ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan ini cukup besar, tapi semuanya tembok. Entah apa yang dipikirkan pemilik sebelumnya, meninggalkan patung di ruang tersembunyi seperti ini, di ruang kosong, tanpa ada apa-apa. Aku memicingkan mata, melihat ada huruf yang sama, dengan kertas yang kubuang tadi, terukir di tembok. Aneh.
Lalu, aku tidak akan pernah lupa apa yang terjadi berikutnya. Di heningnya ruangan ini, ada suara gesekan terdengar. Pelan sekali. Sssk. Sssk. Sssk. Aku mengarahkan senter ke belakang. Tidak ada apa-apa. Aku mengarahkan senter ke samping. Tidak ada apa-apa. Tapi bunyi itu terus mengganggu. Ssssk. Ssssk. Ssssk.
Lalu ketika aku mengarahkan senter ke atas. Di situ aku melihat dia. Sebuah sosok manusia, sedang merayap di langit-langit rumah. Tangannya sama panjang dengan kakinya. Aku tidak tahu dia memakai baju atau tidak, tapi rambut panjangnya menutupi hampir semua bagian tubuhnya. Menjuntai dari atas langit-langit. Diam memandangiku.
Sosok itu bergerak pelan. Ssssk. Tangannya menapak di langit-langit, menempel tanpa harus mencengkram. Kakinya bengkok hingga dengkulnya hampir mengenai tulang rusuknya. Kepalanya menoleh ke arahku. Lalu, wajahnya. Oh, wajah itu. Matanya terbuka besar. Pipinya sobek di sebelah kiri, sehingga giginya bisa terlihat meskipun mulutnya tidak terbuka. Dia menarik napas panjang, lalu dia membuka mulutnya, berkata, ‘Halo sayang.’
Aku hendak berlari, tapi kaki tidak bisa bergerak. Aku hendak menjerit tapi badai adrenalin terlalu tinggi sampai membuat mulutku lumpuh. Aku gemetaran. Tidak bisa ngapa-ngapain. Napasku mendera seperti tembakan senapan otomatis. Jantungku memompa terlalu kencang hingga aku mulai pusing.
Ada keheningan beberapa saat, sampai akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya, ‘Kamu siapa?’
‘Aku?’ tanya sosok itu. ‘Aku dosa yang manis, sayang.’
Sosok itu perlahan merayap ke arah tembok, bergerak ke arahku. ‘Aku yang kamu keluarkan dari penderitaan panjang. Yang kamu cium. Yang kamu bebaskan.’
‘‘Kamu hantu?’ tanyaku.
Dia tertawa, ‘Hantu datang dari orang yang sudah meninggal, sayang. Aku datang dari ketiadaan. Aku datang dari mimpi buruk di setiap tidur panjang orang yang serakah.’
Napasku menggebu. Sosok itu maju ke depanku. Wajahnya tepat ada di depan wajahku. Dia menatap mataku tajam. Aroma aneh tercium di hidung, bau yang belum pernah aku temui sebelumnya, campuran antara bunga melati dan bangkai penuh belatung.
‘Kamu mau apa?’ tanyaku.
‘Aku butuh pelayan baru. Untuk hidup sama-sama. Aku butuh perjanjian yang baru, sayang.’
‘Aku?’ Jari-jariku gemetaran tanpa kontrol.
‘Tidak, tidak, tidak.’ Dia lalu berkata, ‘Kamu aku lepaskan, karena kamu yang membebaskanku. Pilih. Di antara dua temanmu itu. Dua bongkah daging berjalan di ujung pintu tadi. Siapa yang akan aku jajah? Siapa yang akan aku hinggapi, rongga di dadanya? Siapa yang memberiku makan?’
‘Makan?’ tanyaku.
‘Tidur terlalu lama akan membuat siapapun lapar, bukan?’ tanya dia kepadaku. Aku semakin gusar. ‘Apa yang terjadi kalau aku memberikan kamu kepada mereka?’
‘Aku akan hidup bersama mereka. Ada dalam diri mereka. Lalu aku akan makan dari cinta di dekat mereka. Dari orang tua mereka. Dari teman mereka. Pelan-pelan. Aku suka makan pelan-pelan. Akan yang ada sakit. Akan ada yang kecelakaan. Akan ada awan hitam di sekeliling mereka pergi. Aku suka makan pelan-pelan.’
Dia tersenyum lebar, lalu melanjutkan, ‘Tapi aku paling suka makan sekaligus rasa yang paling nikmat: rasa cinta yang bersemi di dekat mereka. Setiap perempuan yang jatuh cinta dengan mereka akan aku ambil untuk aku jadikan kudapan. Mmmmmmh.’ Dia menutup matanya, seolah membayangkan sebuah kenikmatan.
Aku masih mendengarkan.
‘Ketika malam tiba aku akan datang ke tempat tidur perempuan itu. Masuk ke mimpinya. Mengunyah nyawanya dari dalam, jengkal demi jengkal. Pelan-pelan, lalu cepat-cepat. Pagi-pagi, perempuan itu akan mati dengan mulut menganga dan mata putih semua. Karena itu yang pantas untuk sebuah kudapan: bagian tersisa untuk dibuang ke tong sampah.
Aku terlihat takut. ‘Kasihan temanku, dong. Hidupnya akan berubah.’
‘Oh jangan khawatir sayang, hidup mereka akan berubah. Mereka akan kaya raya. Keberuntungan akan datang. Karena itu lah kenapa dulu aku dipelihara. Semesta ini adil, sayang: setiap kemalangan harus diseimbangkan dengan kemewahan. Aku bisa memberikan itu. Aku bisa membuat semua mimpi mereka, menjadi lebih indah dari khayalan paling liar sekalipun. Mereka akan lupa rasanya ingin. Mereka akan lupa rasanya butuh. Karena semua, sudah ada.’
‘Hidup yang sempurna?’ tanyaku.
‘Lebih sempurna dari kesempurnaan itu sendiri. Kamu tidak bisa bayangkan, sayang. Kamu tidak bisa.’
Terdengar suara langkah kaki dan suara Yudi dan Kevin sedang mengobrol, mendekat ke arah pintu keluar. Sebentar lagi mereka akan datang.
‘Siapa pun yang kamu pilih, aku turuti,’ kata sosok itu. Dia lalu mendekat, dan mendekat, dan mendekat, hingga matanya hampir menempel mataku. Lalu dia berkata, wajah dimiringkan, setengah tidak sabar, ‘Jadi siapa yang akan membawaku pulang hari ini?’

Oki dan Rahma masih duduk berdua di atas sofa coklat kosan. Rahma memegang tangan Oki yang baru saja selesai bercerita. Dia terlihat puas mendengarkan cerita Oki. Rahma takjut. ‘Itu serem sih. Ceritaku soal sosok putih mah gak ada tandingannya, dengan apa pun yang kamu alami waktu itu.’
Lampu kosan tiba-tiba kedap-kedip. Begitu cara Ibu Kos memberitahu kalau waktu bertamu sudah terlalu malam. Rahma menghela napas panjang, kecewa dia harus berpisah dengan Oki.
‘Baiklah.’ Oki berdiri dari sofa, dia berkata, ‘Itu tandanya aku harus pulang. Makasih buat hari ini ya.’
Rahma tersenyum. ‘Iya, sama-sama.’
Oki berjalan ke arah pintu, dia lalu membalikkan badannya, ‘Kamu gak penasaran? Siapa yang aku pilih? Dia pulang sama siapa?’
Rahma berkata, ‘Ah, itu sih udah ketebak. ‘Pasti Yudi, kan? Secara dia yang paling nyebelin.’
Oki tidak menjawab.
‘Ya kan?’ tanya Rahma, lagi.
‘Misteri adalah elemen terpenting dari sebuah cerita horor, jadi aku biarkan begitu saja ceritanya,’ kata Oki, lalu tersenyum. Rahma hanya mengangguk. ‘Oke, fair juga.’
‘Oh by the way,’ kata Rahma. ‘Makasih udah cerita ya. Aku pegang janjiku tadi, aku janji gak bakal cerita ke siapa-siapa.’
‘Iya, aku tahu kok,’ kata Oki. Dia mendekat, lalu mendekat. Matanya memandang mata Rahma, tajam. ‘Aku tahu kamu gak akan bisa cerita ke siapa-siapa.’

Kereta Hantu UI


Hela Cafeters! Selamat hari kamis manis. Apakah kisah horor ini akan semanis kamis ini? Entahlah, mari kita baca.
Bagi sebagian besar anak UI, pasti pernah mendengar atau bahkan merasakan sendiri kisah kereta hantu. Dikisahkan bahwa pada waktu menjelang tengah malam, terkadang ada kereta yang berhenti di stasiun UI untuk mengangkut penumpang.
Salah satu kisah mengenai kereta hantu ini yang cukup melegenda ialah tentang seorang mahasiswa UI yang ingin pulang ke rumahnya di daerah Tebet. Saat ia menaiki kereta ini, di dalamnya terdapat beberapa penumpang dengan wajah yang pucat. Selama menaiki kereta tersebut, tak ada orang yang saling berkomunikasi.
Setiap penumpang hanya tertunduk diam. Mahasiswa ini merasakan kejanggalan lain, yakni kereta melaju sangat cepat dan tidak berhenti di setiap stasiun. Kereta ini baru berhenti di stasiun Tebet, tujuan dari si mahasiswa UI tersebut.
Saat turun, si mahasiswa memperhatikan tak ada penumpang yang turun di stasiun Tebet dan hanya ia seorang yang turun. Begitu turun, kereta itu langsung melaju kencang tanpa menunggu penumpang lagi.
Ketika si mahasiswa UI ini berjalan menuju keluar stasiun, dia ditegur oleh penjaga stasiun. Si penjaga bertanya-tanya dari mana si mahasiswa ini datang. Si mahasiswa hanya menjawab bahwa ia baru naik kereta dari UI.
Sontak, si penjaga terkejut dan menceritakan bahwa tak ada kereta yang datang. Ia hanya melihat si mahasiswa berjalan di atas rel sampai ke stasiun Tebet. Mendengar ucapan si penjaga stasiun, si mahasiswa pun terkejut lalu pucat. Ia tidak menyangka kalau dirinya baru saja menaiki kereta hantu.
Cerita mengenai kereta hantu UI ini sudah berseliweran di kalangan mahasiswa sejak tahun 1990-an. Saking terkenalnya cerita ini, banyak mahasiswa UI yang enggan naik kereta dari stasiun UI bila menjelang waktu tengah malam.
Gimana kisah kamis manis kali ini? Jangan lupa It’s behind you

-Barbara
Sc : https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-life/kisah-horor-di-kampus-ui/

THERE’S SOMETHING IN THE LADIES TOILET AT WORK


Selama 4 tahun terakhir, aku bekerja sebagai video editor di sebuah perusahaan pakaian wanita. Seperti yang bisa kau bayangkan, sebagian besar pegawainya adalah wanita. Bahkan, aku satu2nya pria di departemenku. Ujung2nya, aku seringkali mendapat ejekan (dalam artian bercanda) dari teman2ku. Namun sejujurnya, aku tak terlalu keberatan. Namun ada satu kekurangan dari tempat kerjaku. Kamar mandi. Oh, maaf, kurasa aku terlalu cepat menceritakannya.

Beberapa bulan lalu, karena tempat kerja kami dirasa kurang luas, bosku memutuskan memindahkan seluruh departemenku (ada 12 orang pegawai, 11 di antaranya perempuan, dan 1 laki2, itu aku) dari kantor pusat kami ke gedung yang lebih kecil di seberang jalan. Aku sangat bersyukur dengan kepindahan ini. Kami benar2 membutuhkan tempat kerja yang lebih luas dan gedung di seberang kebetulan kosong. Tapi sayangnya, kondisi gedung itu tidak terawat. Tidak ada yang menyewa gedung tersebut selama beberapa bulan dan kondisinya benar2 parah. Langit2nya bocor, bahkan ada yang ambruk. Lantainya retak, dan kamar mandinya benar2 dalam keadaan kotor. Namun bosku mengucurkan banyak dana untuk merenovasi gedung tersebut dan setelah jadi, kami bahkan tak bisa lagi mengenalinya (dalam artian yang baik).

Perubahannya benar2 tak bisa dipercaya! Kami memilikicubicle2untuk tempat kami bekerja dengan pot tanaman, kursi yang ergonomis, dan kami juga memiliki ruang lapang dimana kami bisa mendekorasinya sesuai keinginan kami. Kami juga diberikan dapur yang lengkap dengan mesin pembuat kopi (bermerek), blender untuk membuat jus, pemurni air, yah hampir segalanya. Dan gadis2 diberikan kamar mandi mewah lengkap dengan futon dan cermin rias (kau tahu, yang ada lampu2 di sekeliling frame-nya).

Bagaimana dengan kamar mandi pria? Well, bisa ditebak karena aku satu2nya pegawai laki2 di sana, maka kamar mandiku tak semewah mereka. Kamar mandiku hanya berisi wastafel, toilet, dan cermin. Itu cukup bagiku, mengingat di gedung ini hanya aku saja yang menggunakannya.

Namun masalahnya adalah kunci pintunya mudah rusak. Ketika aku keluar dari kamar mandi, pintunya akan menutup sendiri dan mengunci dari luar. Aku tak bisa masuk tanpa bantuan dari bagian maintenance gedung. Hal itu tidak terjadi terlalu sering, namun cukup untuk membuatku kesal. Karena seringkali kejadian itu berlangsung saat kondisi “darurat”, yah kau tahu lah maksudku. Untuk membuat segalanya lebih buruk, bagian maintenance di gedung ini bisa dibilang supersibuk, sehingga mereka baru bisa menangani keluhanku setelah beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Untungnya, para rekan kerjaku (yang semuanya wanita) sangat baik dan mengizinkanku menggunakan kamar mandi wanita apabila kamar mandiku terkunci. Mereka mengatakan mereka tidak keberatan, bahkan agak “terhibur” (entah apa itu maksudnya).

Peristiwa itu terjadi beberapa kali. Aku sebenarnya ingin cuek saja, namun aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. AKu benci menggunakan toilet perempuan. Ini bukan hanya karena ego-ku sebagai laki2. Itu juga bukan karena rasa malu. Namun karena menggunakan kamar wanita rasanya benar2 aneh. Ya, aneh. Seperti kau merasakan ada sesuatu yang membuatmu merinding tanpa bisa menjelaskannya. Saat aku menggunakan kamar mandi wanita, aku merasa bahwa aku tak sendiri.

Aku ingat dengan samar pertama kali aku terpaksa menggunakannya. Hari itu adalah hari dimana kunci kamar mandi pria macet sejak pagi dan aku hampir menghabiskan seharian tanpa pergi ke kamar mandi. Sejam sebelum shift-ku berakhir, aku merasa seperti kandung kemihku akan meledak. Kakiku gemetaran dan gigiku mengigiti bagian dalam pipiku, serta mataku mulai berair. Aku menyadari bahwa pada titik ini, aku hanya punya dua pilihan: menggunakan kamar mandi wanita atau mencari semak2 di luar. Aku lebih memilih memakai kamar mandi wanita, walaupun itu adalah keputusan yang sangat sulit untuk kubuat. Rekan kerjaku (yang sekali semua adalah wanita) berjanji mereka akan berjaga di depan pintu untuk memastikan tidak ada yang masuk sementara aku menggunakan kamar mandi. Mereka juga memeriksa ke dalam untuk memastikan kamar mandi itu kosong sebelum aku masuk.

“Halo?” tanyaku. Tak ada respon.

Pikiran pertama yang terbesit di benakku adalah betapa bagusnya kamar mandi ini. Seperti yang kusebutkan di atas, ada futon dan cermin yang bisa menyala. Aku juga terkejut tidak ada urinal di sana. Hanya ada bilik2. Yah, butuh waktu sejenak untuk benar2 menyadari aku berada di kamar mandi wanita. Rasanya aneh, sebab seumur hidupku, setiap aku memasuki kamar mandi, aku selalu melihat urinal.

Aku memasuki sebuah bilik, menguncinya (walaupun aku tahu takkan ada yang masuk), dan melakukannya. Aku berdiri di sana, mengosongkan kandung kemihku, dan tak mendengar apapun kecuali air seniku yang mengalir ke dalam kloset. Rasanya suasana itu berjalan selama semenit hingga aku mendengar suara lain. Suara itu seperti suara langkah kaki yang sangat ringan. Lalu,

“Ngiiiiik …”

Jantungku berhenti. Itu adalah suara bilik di sampingku terbuka. Ada seseorang yang berada di dalam kamar mandi selain diriku. Mungkin orang itu masuk tanpa sepengetahuan rekan kerjaku di luar atau sejak awal dia memang sudah ada di sini dan rekan2 kerjaku tak mengetahuinya.

Setelah rasa terkejutku reda, perasaanku berganti menjadi rasa malu. Inilah aku, kencing berdiri di kamar mandi wanita (garis bawahi kata “berdiri”), dan seorang gadis malang mendengarnya. Mungkin gadis yang bekerja denganku itu sama malunya denganku. Sial, ini awkward! Entah bagaimana, tanpa aku berpikir, aku mengucapkan, “Uuuh, maaf.” Aku kembali mendengar suara “Ngiiiik” dari suara pintu bilik yang terayun membuka dan suara “Tuk” yang pelan. Setelah aku selesai kencing, membilasnya, dengan lega aku keluar dari bilik. Aku melihat wajah merahku yang tersipu di cermin dan memutuskan untuk mencuci mukaku dengan air. Akupun keluar dari kamar mandi.

Rekan kerjaku bersumpah tak ada yang masuk ke kamar mandi wanita ketika aku berada di dalam. Dan mereka meyakinkanku bahwa kamar mandi itu kosong ketika aku masuk. Aku tak yakin, namun aku berpikir bahwa aku mungkin saja salah dengar. Mungkin itu suara air yang mengalir melalui pipa di dinding dan melupakan semua pengalaman itu.

Aku hanya pernah menggunakan kamar mandi wanita selama dua kali sepanjang bulan itu. Dan setiap kali aku melakukannya, itu adalah pengalaman yang menyiksa. Tiap kali aku sudah tak tahan lagi, aku merasa paranoid, selalu merasa seakan aku sedang menyerang ruang privasi orang lain. Satu kali, ketika aku sedanng mencuci tangan, aku menatap ke cermin dan bersumpah melihat sesuatu bergerak di sudut mataku. Sebuah gerakan cepat di dekat salah satu bilik.

Seperti seseorang (atau sesuatu) dengan cepat berusaha menghindar dari tatapanku. Aku tak bisa menunjukkan dengan tepat dimana gerakan itu berasal, namun aku bisa bersumpah bahwa aku benar2 melihatnya saat itu. Dan aku juga mendengar suara yang familiar.
“Ngiiiiik …” diikuti dengan suara “Tuk.”

Tak heran para wanita selalu ke kamar mandi ramai2, pikirku. Pasti itu membantu mereka agar tidak mendengar suara2 yang aneh.
Secara keseluruhan, menggunakan kamar mandi perempuan adalah pengalaman paling canggung yang pernah kualami. Namun itu bukan pengalaman yang terlalu menakutkan.

Hingga hari ini. Sial! Aku benar2 merinding jika mengingatnya. Hari ini adalah hari terakhir aku menggunakan kamar mandi wanita SELAMANYA. Dan aku akan berusaha supaya tak satupun rekan kerjaku yang menggunakan kamar mandi itu. Hari ini bukanlah hari yang normal, ini adalah hari yang benar2 sibuk. Begitu banyak yang harus kulakukan. Aku terlambat makan (pada titik ini perutku mulai terasa aneh).

Aku punya ribuan deadine yang harus kupenuhi. Dan lebih buruk lagi, tanpa sengaja aku kembali mengunci kamar mandi pria dari luar. Aku mengirim e-mail ke bagian maintenan cedan meneruskan bekerja sepanjang hari, sehingga akupun melupakannya. Aku segera menyadari bahwa aku takkan mungkin pulang ke rumah tepat waktu, terutama karena sebuah proyek tiba2 muncul sekitar satu jam sebelum waktu pulang. Aku sedikit merasa khawatir dengan beberapa hal.

Pertama, jika aku tidak pulang sekarang, aku takkan menemukan tempat parkir di blok apartemenku. Kedua, aku sepertinya mengalami sedikit masalah pencernaan hari ini dan merasa sedikit tak nyaman. Namun aku bekerja secepat mungkin dan masih berharap dapat pulang tepat waktu.

Dan tentu saja, hari dimana kau ingin pulang ke kantor lebih cepat adalah hari dimana (kenyataannya) kau harus bekerja lembur dan pulang terlambat, bahkan paling akhir. Pada pukul 6, gadis terakhir sudah pulang dari kantor dan aku masih belum menyelesaikan proyekku. Pada 7.30, perutku mulai membunuhku secara perlahan.

Perutku mulai berbunyi cukup keras. Ia tidak mengatakan, “Aku lapar!” melainkan “Aku sedang kesal dan akan meledak. Aku akan membuat kekacauan di sini jika kau tak segera ke toilet!”. Yah, singkat kata, aku harus segera menggunakan kamar mandi. Tak bisa ditunda lagi. Aku melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan komputerku untuk memproses tahap akhir proyek videoku. 45 menit. Itu dan ditambah setengah jam berkendara pulang, jelas tidak mungkin aku bisa menunggu selama itu. Aku pergi ke kamar mandi laki2 dan berusaha membukanya.

“Klik!”

Yah, benar. Masih terkunci dan pasti bagian maintenance masih terlalu sibuk untuk memperbaikinya. Aku mengintip kamar mandi wanita dan merasa gugup untuk alasan yang aneh. Namun aku mengabaikannya dan memutuskan untuk masuk saja (perutku memaksaku, aku tak punya pilihan lain).

Aku memasuki kamar mandi wanita dan dengan terburu-buru langsung masuk ke dalam bilik, sambil melepas sabukku ketika aku berjalan.
Aku takkan memberikan detail yang terlalu rinci di sini, namun setelah 20 menit duduk di kloset, aku mulai merasakan horor. Aku mulai mendengar langkah kaki. Aku mendengarkan dengan seksama, bertanya-tanya mungkinkah aku sedang berkhayal.

“Tap … tap … tap ….”

Tidak, aku tak mungkin salah. Aku jelas2 mendengar suara langkah kaki. Tidak, bukan langkah kaki. Seperti suara sesuatu merangkak? Jantungku berdebar kencang dan paru2ku serasa membeku ketika aku menyadari darimana suara itu berasal.

Suara langkah kaki itu tidak berasal dari luar.

Suara itu berasal dari atasku. Tepat dari atasku.

Aku menatap ke atas dan suara itu menghilang. Untuk sesaat, aku tak mendengar sesuatupun namun jantungku berdebar sangat kencang hingga aku mulai merasa sakit. Kemudian,

“Ngiiiiiik …”

Pada saat itulah aku menyadari bahwa selama ini yang kudengar bukanlah suara bilik yang didorong terbuka. Itu adalah suara papan plafon langit2 yang diangkat. Ketika papan plafon yang berada tepat di atasku tergeser membuka, akupun melihatnya. Mataku membelalak dan mulutku menganga ketika aku melihat sesuatu di sana.

Dan ia balik menatapku.

Di dalam langit, sebagian tersembunyi di dalam bayangan, aku melihat sebuah mata. Mata itu mengintip, melihat tepat ke arahku untuk selama sedetik. Kemudian, secepat ia terlihat, secepat itu pula ia menghilang. Hal terakhir yang kulihat adalah suata “Tuk” yang pelan ketika ia meletakkan kembali papan plafon itu di tempatnya.

Apa yang terjadi berikutnya masih sangat kabur dalam ingatanku. Aku tak ingat berdiri dan menarik celanaku. Aku tak ingat meraih kunci mobilku dan keluar dari gedung. Aku hanya ingat detak jantungku yang serasa memukul2 dadaku.

Detak jantungku sangat kencang hingga rusukku terasa sakit. Ketika aku pulang, aku mencoba mengingat kembali apa yang aku lihat. Aku bertanya-tanya, apa yang akan kukatakan pada rekan2 kerjaku besok tentang apa yang kulihat tadi?

Itu jelas wajah seorang laki2, namun wajahnya tak sepenuhnya seperti manusia.

Rabu, 19 Agustus 2020

Perdagangan Budak Kulit Hitam Dan Putih Tawanan Barbary Corsair

Bagaimana perdagangan budak kulit hitam dan putih yang sempat menakutkan penduduk pesisir Eropa? Bajak laut Barbary Corsair tidak hanya menargetkan kapal perdagangan, tetapi juga pemukiman sepanjang pinggir pantai yang tidak dijaga. Mereka menangkap semua orang tanpa mengenal usia, pria dijadikan pekerja paksa, sementara wanita dijadikan budak seks.


Perdagangan Budak Kulit Hitam Dan Putih
The Slave Market, Wikimedia Commons
Perbudakan sudah ada sejak dulu kala, salah satunya yang terkenal di zaman Babilonia yang mencatat perdagangan budak dalam Code Hammurabi pada abad ke-18 SM. Hampir setiap kalangan mempunyai budak sendiri atau memperbudak orang lain. Diabad ke-16 hingga 19, eropa mengalami guncangan hebat karena perdagangan budak Afrika dan budak kulit putih disekitar Mediterania. Saat itu diperkirakan lebih dari 1 juta orang Eropa diperbudak oleh bajak laut Barbary Corsairs, kehidupan budak kulit putih ini diperlakukan sama seperti budak Afrika.

Perdagangan Budak

Bagaimana awalnya bajak laut ini muncul dan mulai mencekam penduduk Eropa? Beberapa abad sebelumnya, atau abad ke-13 dan 14, bajak laut Eropa dari Catalonia dan Sisilia mendominasi lautan. Mereka adalah ancaman utama para pedagang Mediterania. Di abad ke16, bajak laut Eropa memperkenalkan kapal-kapal canggih ke pelabuhan Barbary. Sejak dikenalkanya kapal-kapal baru ini, Corsair mulai agresif dan menyerang kapal pedagang Eropa.

Antara tahun 1609 dan 1616, Inggris kehilangan 466 kapal dagangnya hanya dalam 7 tahun (1609-1616). Mereka menangkap non-Muslim untuk dijual sebagai budak atau tebusan, tawanan yang masuk Islam umumnya dibebaskan. Saat itu Pantai Barbary dan imigran yang terusir dari Spanyol dibawah perlindungan Ottoman.

Perdagangan budak saat itu dilakukan oleh bajak laut atau Corsairs sejak abad ke-16. Mereka melakukan aksinya di sepanjang pantai Barbary. Yang saat ini mencakup wilayah Maroko, Algeria, Tunisia, dan Libya. Siapa pun yang belayar di Mediterania merasa khawatir akan ditangkap oleh Corsair dan dibawa ke kota Barbary Coast untuk dijual sebagai budak. Kadang-kadang Corsair juga menyerang pemukiman di pesisir Italia, Prancis, Spanyol, Portugal, Inggris, Irlandia, bahkan sampai ke Belanda dan Islandia. Mereka mencari pantai yang tidak dijaga dan menyusup ke desa-desa untuk menangkap calon budak.

Baca juga: Kesultanan Mamluk Mesir Hancur Diserang Napoleon Perancis

Penduduk desa Baltimore di Irlandia pernah merasa ketakutan, hampir seluruh penduduknya ditangkap dan dijadikan budak kulit putih sekitar tahun 1630. Sejak kejadian itu, banyak penduduk pesisir Mediterania pindah ke tempat yang aman. Penyerbuan Barbary Corsair di pantai pesisir ini merupakan kejadian yang sangat mengerikan.

Mereka menyerbu pada malam hari bersenjatakan senapan, menunggu di depan pintu setiap rumah. Ketika semua sudah siaga di posisi depan rumah, kapten memerintahkan secara serentak untuk mendobrak setiap rumah dan menggeret penghuni yang sedang tidur. Setidaknya ada 33 wanita, 20 pria, dan 54 anak-anak dari Baltimore diseret ke dalam kapal. Setelah mendapatkan korbannya, Corsair kemudian kembali ke Algiers dan menjual budak kulit putih ini.

Awal tahun 1600-an diperkirakan 35,000 budak Eropa ditahan di Pantai Barbary. Mayoritas pelaut Eropa dan sisanya penduduk desa pesisir. Dari tahun 1450 hingga 1700, perdagangan budak yang masuk ke Istanbul sekitar 2,5 juta.

Budak yang tertangkap bajak laut ini banyak yang tidak bertahan hidup. Ada yang meninggal di kapal selama perjalanan karena penyakit dan kekurangan makanan. Perdagangan budak saat itu diarak ke hadapan calon pembeli, mereka dirantai dan nyaris tanpa sehelai pakaian. Para pembeli memeriksa setiap sudut fisik sebelum membelinya. Pada umumnya budak pria dimanfaatkan untuk tenaga kerja kasar di pertambangan, bangunan, dan nasib terburuk jika dijadikan budak dayung kapal. Budak kapal ini dibelenggu rantai, tidur, makan, dan buang air, ditempat duduknya masing-masing. Pengawas akan mencambuk budak-budak yang dianggap malas dan banyak alasan.

Baca juga: Lawrence of Arabia, Mata-Mata Inggris Yang Mendalangi Pemberontakan Arab

Sementara budak wanita kulit putih yang masih muda paling mahal dan paling laris, mereka dijadikan sebagai selir. Wanita yang sudah tua dijadikan pembantu rumah tangga yang sudah pasti harganya murah. Budak kulit putih yang masih anak-anak kebanyakan dibesarkan dan diajarkan menjadi seorang Muslim. Kemudian anak laki-laki yang telah terdidik dipilih dan nantinya dimasukkan kedalam Korps tentara Ottoman.

Antara tahun 1785 dan 1815, sekitar 700 orang Amerika juga ditahan di pantai Barbary sebagai budak. Setiap tahunnya diperkirakan ada 8500 budak baru yang tertangkap. 

Barbary Corsair Dari Luar Afrika

Menurut Robert Davis dalam bukunya "Christian Slaves, Muslim Masters: White Slavery", perdagangan budak Barbary umumnya digambarkan sebagai bajak laut Muslim yang menangkap korban kulit putih Kristen. Tetapi kenyataannya, Corsairs tidak peduli dengan ras ataupun agama. Korban yang menjadi budak Barbary adalah mereka yang berkulit hitam, coklat, putih, dan agamanya bisa saja Katolik, Protestan, Ortodoks, Yahudi bahkan Muslim. Bajak laut Corsairs bukan hanya Muslim, mereka ini juga ada yang berasal dari pasukan Inggris dan kapten Belanda. Selama ini banyak orang menganggap perbudakan selalu bersifat rasis, tetapi kenyataannya tidak demikian.

Baca juga: Peristiwa Perancis Menjajah Kairo Dan Menodai Mesjid Al-Azhar

Bajak laut mulai berkurang ketika Eropa mulai memperkuat angkatan lautnya untuk melindungi perdagangan mereka. Dia awal abad ke-19, Amerika dan beberapa negara Eropa mulai melawan balik para perompak Barbary. Algeria sering dibombardir oleh Prancis, Spanyol, dan Amerika, sehingga memaksa Corsair untuk menyetujui persyaratan penghentian memperbudak kulit putih, tetapi perdagangan budak non-Eropa tetap diizinkan.

Antara tahun 1580-1680, sekitar 15000 orang Eropa Kristen yang masuk Islam bergabung kedalam Barbary Corsair. Setengah dari kapten Corsair adalah orang Eropa, kebanyakan pendatang dari luar Afrika justru mencari peluang ditengah maraknya perdagangan budak. 

Perdagangan budak mulai berkurang sejak Swedia dan Amerika Serikat mengalahkan mereka dalam Perang Barbary tahun 1800-1815. Di tahun 1816, kapal-kapal Inggris dan Belanda membom Algiers selama sembilan. Perdagangan budak berakhir ketika Prancis menaklukkan Algeria (1830-1847).

Referensi

  1. Christian Slaves, Muslim Masters: White Slavery in the Mediterranean, the Barbary Coast and Italy, 1500–1800. By Robert C. Davis (2003)
  2. British Slaves on the Barbary Coast. By Robert Davis, BBC History (2011)
  3. Trans-Saharan Slave Trade. Wright, John (2007).

Kisah Ribuan Selir Kaisar Dinasti Ming Disiksa Dan Dihukum Masal

Inilah kisah selir kaisar dinasti Ming yang tewas karena dihukum. Tradisi pada waktu itu sangat ketat untuk menjaga nama baik kaisar, sehingga semua wanita harus tunduk dengan aturannya. Ada banyak kisah menyedihkan dibalik kota terlarang atau Forbidden City yang menyimpan ribuan selir. Dibalik tembok ini banyak kejadian menyedihkan para selir, bahkan pernah terjadi pembantaian masal oleh salah satu kaisar di zamannya.


Kisah Ribuan Selir Kaisar
Frühlingsmorgen im Han-Palast, Wikimedia Commons
Dinasti Ming merupakan salah satu pemerintahan sukses dalam sejarah, kejayaan ini sejak tahun 1368-1644. Di tahun-tahun ini mereka menjadi dinasti adikuasa yang terkenal dengan ekspedisi laut menyaingi Christopher Columbus. Di zaman ini Ming sudah mencetak buku yang pada waktu itu mesin cetak belum ada di Eropa. Ada banyak gebrakan semenjak dinasti Ming menjelajah dunia, tetapi dibalik itu juga tersimpan kisah kelam di Kota Terlarang, Forbidden City.

Kisah Ribuan Selir Kaisar

Kaisar Ming pada waktu itu pernah memberlakukan hukum yang sangat kejam terhadap selirnya. Bahkan ada kaisar yang menyimpan lebih dari 9000 selir, kebanyakan selir-selir ini diambil secara paksa atau diculik dari rumah. Mereka dilarang meninggalkan ruangan kecuali dipanggil ke kamar tidur kaisar. Kaki selir ini diikat sehingga membuat selir pincang tidak bisa melarikan diri, bahkan ada yang tidak bisa berjalan.

Salah satunya Kaisar Hongwu yang paling berpengaruh karena membangun dinasti Ming. Kekejaman nya terhadap para selir dianggap berlebihan, mereka dikurung dan disiksa. Dia yang telah memulai tradisi penghukuman selir dipaksa untuk bunuh diri, atau dikubur hidup-hidup bersama kaisar yang mati. Tradisi ini diteruskan oleh dua penerus nya, Kaisar Yongle dan Hongxi. Tetapi semenjak kepemimpinan Kaisar Zhengtong, tradisi ini dihapuskan dalam surat wasiatnya pada tahun 1464. Para selir kaisar hanya kehilangan martabat, nikmat duniawi, lebih baik daripada kehilangan nyawa.

Baca juga: Laksamana Zheng He, Cheng Ho, Kasim Keturunan Rasulullah

Di zaman Kaisar Yongle, dia membangun Kota Terlarang di Beijing pada tahun 1420. Komplek ini terdiri dari 980 bangunan, 9000 kamar, dibangun diatas lahan seluas 180 hektar. Tak lama setelah kota ini dibangun, ada desas-desus bahwa salah satu selirnya bunuh diri dengan tuduhan berselingkuh dengan kasim istana. Selir ini mengatakan alasannya berselingkuh karena kaisar impotensi. Mendengar ucapan ini, kaisar merasa terhina, dia membungkam semua orang yang tahu dan yang terlibat.

Dia mengatakan kepada seluruh istana bahwa selir itu telah diracun, kemudian mengumpulkan 2800 wanita dari kota terlarang yang dibangunya untuk di eksekusi. Meskipun tidak disebutkan secara detil tentang pembantaian, Catatan ini diperoleh dari selirnya, yang saat itu sudah lari jauh dari istana. Akhirnya dia beserta 15 selir yang tersisa digantung di aula Kota Terlarang pada hari pemakaman Yongle.

Baca juga: Kisah Kaisar Qin Shi Huang Mencari Ramuan Abadi

Berbeda dengan Zhengde yang berkuasa tahun 1505, dia mempunyai keanehan dan merasa tak puas dengan selir-selirnya. Kaisar ini mengumpulkan banyak selir cantik. Karena banyaknya selir, 9000 ruangan yang tersedia tidak cukup bahkan ada yang tewas kelaparan karena tidak kebagian makanan. Dan ketika bosan dengan selirnya, dia menyelinap dan menyamar di malam hari untuk mengunjungi rumah bordil.

Referensi

The Merciless Ming: The Chinese dynasty was unspeakably cruel and one of the most debauched in history - yet they produced the sublime art now on show at the British Museum. By David Leafe, Daily Mail 17 September 2014.

Kisah Raja Inggris Henry VIII Menikahi Anne Boleyn, Anaknya Sendiri

Inilah misteri ratu Inggris Anne Boleyn, salah satu dari enam istri raja Henry VIII. Wanita ini selama berabad-abad menjadi topik pembicaraan karena perbuatannya yang menyebabkan dirinya dihukum mati. Dalam kisah Raja Inggris Henry VIII menjadikannya ratu kedua dan berharap wanita ini memberikannya anak laki-laki.


Kisah Raja Inggris Henry VIII
Henry VIII's first interview with Anne Boleyn, Wikimedia Commons
Tetapi faktanya diluar dugaan, ratu tidak seperti yang diharapkan sehingga membuat Raja Henry berselingkuh dengan wanita lain. Sedangkan Anne diadili dan dihukum mati atas tuduhan perzinahan, inses, dan pengkhianatan. Menurut rumor yang beredar di abad ke-16, raja Henry telah meniduri keluarga ini, mulai dari ibu dan kedua putrinya.

Kisah Raja Inggris Henry VIII

Anne Boleyn dilahirkan dari keluarga bangsawan sederhana antara tahun 1501 dan 1507. Kakek buyutnya Geoffrey Boleyn, pernah diangkat sebagai Walikota London, sejak saat itu keturunannya menjadi bangsawan terhormat. Ayahnya menjadi seorang diplomat, dan ibunya adalah Elizabeth, putri Duke of Norfolk. Sejak kecil dia tinggal dilingkungan istana bupati Belanda, kemudian dikirim ke Prancis sebagai pelayan istri Raja Prancis, Louis XII.

Di abad ke-16 tersebar rumor bahwa Anne adalah putri Henry sendiri, karena Ibunya pernah seranjang dengan raja. Begitu juga dengan Mary, adik Anne, diduga raja Henry telah menghamili adiknya dan melahirkan seorang putri.

Baca juga: Dongeng Putri Salju Diangkat Dari Kisah Nyata Raja Phillip IV

Anne bukan wanita yang cantik, kabarnya wanita ini mempunyai enam jari ditangan kiri dan tahi lalat besar di leher. Tetapi dibalik itu, kecerdasan dan pesonanya telah membuat bangsawan kagum. Hingga membuat raja Henry VIII terpikat dan berniat menjadikannya gundik, tetapi Anne menolaknya. Saat itu istri raja Catherine adalah bibi kaisar Roma, jadi raja pun takut menyinggung jika menceraikannya. Alasan lainnya, dia juga sudah bosan dengan istrinya karena tak bisa memberi anak laki-laki.

Diam-diam, raja Henry VIII menikahi Anne di sebuah upacara rahasia. Anne dinobatkan sebagai ratu dan melahirkan seorang putri bernama Elizabeth I. Anne sempat mengalami keguguran saat mengandung anak laki-laki, hingga membuat raja bosan dan berselingkuh dengan pelayan ratu, Jane Seymour.

Baca juga: Moge Khatun, Selir Genghis Khan Yang Dinikahi Anaknya

Wanita selingkuhan ini pun dijadikan istri Henry VIII, dan diangkat menjadi ratu setelah Anne dihukum mati. Ibu Anne dikabarkan masih sepupu ibu Jane, jadi perkawinan ini masih diseputar keluarga bangsawan. Dari Jane inilah raja Henry mendapatkan seorang putra yang menjadi Raja Edward VI, wanita ini adalah satu-satunya istri Raja yang menerima penghormatan pemakaman ratu.

Bagaimana dengan nasib ratu Anne? Pada tahun 1536 dia ditangkap dan dibawa ke Menara London, kemudian didakwa atas tuduhan perzinahan, inses dan berkomplot untuk membunuh raja. Anne dijatuhi hukuman mati, dipenggal dengan pedang tertajam saat itu oleh seorang algojo. Jenazah ratu ini dimakamkan tanpa tanda, tidak ada penghormatan untuk pemakaman ratu saat itu.

Referensi

  1. Henry VIII in history, historiography, and literature. By Baumann, 1992.
  2. 11 things you (probably) didn’t know about Anne Boleyn. Publish by History Extra Mag, June 25, 2020.

Selasa, 04 Agustus 2020

Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

Yuk, Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

1. Drupadi

Perempuan pertama yang dinikahi oleh Arjuna adalah Drupadi. Memang, Drupadi tidak hanya istrinya saja, tapi istri semua Pandawa.

Tapi, Arjuna lah yang sebenarnya memenangkan Drupadi untuk dijadikan istrinya. Hanya saja, atas permintaan dari Dewi Kunti, ibunya, Drupadi harus menikah dengan kelima Pandawa.

Jauh di lubuk hatinya, Drupadi sangat mencintai Arjuna. Pria yang sudah memenangkan dan memanah hatinya dengan api asmara.

Yuk, Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

2. Subadra
Saat diasingkan dari Indraprasta, Arjuna tinggal di Dwarka sebagai tamu kerajaan adik Krisna, Subadra. Di sana, ia meminta izin kepada Krisna untuk menikahi Subadra, dan ini jawaban kakaknya.

"Seorang prajurit pemberani tidak pernah memohon untuk wanita. Kalau ia tidak memenangkannya dalam perang, maka ia akan membawa wanita itu secara paksa," ujar Krisna.

Perkataan Krisna itu memberikan petunjuk bagi Arjuna. Suatu hari, saat Subadra pergi ke kuil, ia membawanya pergi dengan menaiki kereta. Penjaga Subadra berusaha untuk menghentikan mereka, tapi gagal.

Para penjaga itu melapor kepada Baladewa, kakak Krisna. Meski sudah siap marah, tapi Baladewa melihat Krisna tidak terganggu dengan hal tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk tidak mengejar mereka.

Krisna mengatakan bahwa adik mereka sudah bahagia dan jadi pengantin dengan pangeran dari Indraprasta.
Yuk, Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

3. Ulupi
Istri ketiga Arjuna bernama Ulupi, ia adalah seorang wanita cantik yang melihatnya di hutan pengasingan. Ulupi adalah seekor ular, ia putri dari raja ular Kauravya dan tinggal di kerajaan ular di Patal Lok.

Saat Arjuna mandi di sungai, Ulupo berubah bentuk jadi ular dan membawa Arjuna ke Patal Lok. Di sana, ia meminta kepada Arjuna untuk menikahinya dan Arjuna setuju.

Keduanya menikah dan memiliki putra bernama Irawan. Setelah itu, Arjuna ingin kembali ke dunia, dan Ulupi membawa suaminya kembali ke tempat asalnya.

Saat menjelang perpisahan, Ulupi memberi Arjuna anugerah. Tidak ada makhluk air yang akan bisa mengalahkan Arjuna sampai kapanpun.

Yuk, Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

4. Chitrangada
Istri Arjuna yang berikutnya adalah Chitrangada. Ia adalah seorang putri dari kerajaan Manipur.

Arjuna bertemu dengan Chitrangada saat ia dalam perjalanan menuju Manipur. Keduanya menikah di sana dan dikaruniai seorang anak bernama Babhru.

Saat Arjuna kembali ke kerajaannya, Chitrangada memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri. Bersama putra mereka, Chitrangada tinggal di Manipur dan mengantarkan kepergian Arjuna kembali ke negaranya.

Yuk, Kenalan Dengan Istri-Istri Arjuna di 'Mahabharata'

5. Uttara
Ketampanan Arjuna tidak hanya membuat para wanita terpesona. Seorang raja bernama Virat pun terpana dengan ketampanan dan kemahirannya bermain panah.

Dengan alasan itulah Raja Virat ingin menjodohkan Arjuna dengan putrinya, Uttari. Namun sayang, Arjuna menolak untuk menikah dengan Uttari.

Arjuna menolak karena sudah menganggap Uttari sebagai muridnya, dan ia tak mau menikah dengan orang yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Sebagai ganti, ia menawarkan Abimanyu, putranya untuk menikah dengan Uttara.

Keburukan Tokoh-Tokoh Wayang yang Sering Dianggap Kesatria Sejati

Gadis Misterius di Sudut Kelas

Cerpen By Cattleya

Arjuna melintas di kelas XI
MIPA-3. Karena tingginya yang mencapai seratus tujuh puluh sentimeter, dia bisa melihat hampir seisi kelas melalui jendela kaca yang tidak terlalu tinggi.

Matanya tertumbuk pada sosok gadis yang duduk di sudut kelas. Gadis berambut panjang  dikepang dua. Berkacamata bingkai hitam tebal. Gadis itu berdandan seperti siswi di era tujuh puluhan.

Dia menoleh, menatap Arjuna dengan sorot mata benci.  Cowok itu terkesiap. Hatinya tiba-tiba dipenuhi rasa tidak enak.

Arjuna mempercepat langkah menuju kelas XI MIPA-5, kelasnya, kemudian duduk di kursi dengan wajah penuh tanya. Dadanya berdebar-debar.

“Hei, Don Juan, kenapa kau?” tanya Ririe.

“Rie, kamu kenal nggak sama anak MIPA tiga yang rambutnya panjang dan pakai kacamata?” Arjuna balik bertanya.

“Nggak hafal aku sama anak kelas itu, Guys. Memangnya ada apa?”

“Kayak ada aneh-anehnya gitu,” kata Arjuna. Ririe malah tertawa. “Apaan sih, lu!” Arjuna melotot.

“Habis kayak iklan air mineral.” Ririe tertawa lagi. “Nanti aku coba tanya Tania yang sekelas,” kata Ririe kemudian. “Lu penasaran banget sama dia.”

“Tadi nggak sengaja lihat. Tatapannya dingin, seperti sangat membenci gue,” kata Arjuna. “O, ya. Dia duduk di pojok.”

“Jangan-jangan itu mantanmu,” kata Ririe seraya tertawa berderai, bertepatan dengan bel tanda istirahat berakhir.

Guru sejarah masuk kelas. Pelajaran lintas minat. Saat mengantuk bagi Arjuna dimulai. Untungnya Pak Narto, sang guru, tak terlalu memusingkan tingkah siswanya di kelas, atau mungkin juga tidak peduli. Barangkali juga dia sudah hafal tingkah anak-anak di kelas itu yang seolah-olah mendengarkan dengan hikmad dan memperhatikan guru, padahal sebenarnya mengantuk. Bahkan ada yang seolah-olah menulis tapi sebenarnya menggambar wajahnya sebagai tokoh-tokoh kartun. Lebih parah lagi menulis kata-kata cinta untuk seseorang yang ditaksir di lembar belakang buku tulis.

Arjuna tak memperhatikan pelajaran yang diberikan Pak Narto. Terlebih Pak Narto menjelaskannya seperti orang mengantuk. Dia teringat gadis berkepang dua itu. Apakah dia pernah mengenalnya? Ataukah pernah berurusan dengannya? Arjuna mencoba mengingat-ingat. Namun tak mendapatkan hasil.

*** 

Dentang jam dinding berbunyi sembilan kali. Papa dan mama Arjuna telah masuk kamar sepuluh menit yang lalu. Arjuna masih sibuk mengerjakan PR kimia di ruang tengah. Sambil sesekali melihat layar televisi yang menayangkan film laga. Saat Arjuna sedang asyik melihat adegan perkelahian, tiba-tiba muncul wajah gadis berkepang dua itu di layar televisi dengan pandangan yang dingin. Arjuna terkejut. Belum sempat menguasai keterkejutannya tiba-tiba wajah gadis berseragam SMA itu berubah menyeramkan. Matanya melotot, melelehkan darah. Rambutnya awut-awutan.  Kemudian tiba-tiba tampak tergantung pada seutas tali.

Arjuna berteriak keras. Membuat kedua orang tuanya terbangun dan bergegas ke tempatnya.

“Ada apa, Jun?” tanya mama Arjuna gusar.

“Ada hantu di televisi, Ma!” Arjuna masih ‘shock’.

“Elah, Jun. Kalau penakut, jangan nonton film horor!” seru mama Arjuna.

“Filmnya bukan film horor, Ma. Film laga. Tapi tiba-tiba muncul hantu itu. Wajahnya mirip teman sekolah, Jun.”

Papa Arjuna tertawa. “Kirain apa, Jun,” katanya. “Terus, mana sekarang? Tuh, yang ada Arnold!”

Arjuna memandang layar televisi. Adegan Arnold Schwarzenegger sedang bertarung dengan musuhnya. Apakah tadi hanya halusinasinya saja? Arjuna hanya bisa membatin.

Cowok itu bergegas merapikan buku dan masuk ke kamar. Kemudian menghempaskan tubuhnya di ranjang. Sebuah pesan dari grup WA gengnya masuk. Dari Bimo.

[Berhasil bertahan seminggu dengan Ambar, dua jeti Bro!] Bimo menyertakan emotikon tertawa berderet-deret.

Arjuna jadi teringat tantangan yang diberikan gengnya, memacari si culun Ambar dalam seminggu.

[Jagain dua jetinya. Gue pasti menang!] Arjuna mengirim pesan balasan.

[Lu nggak akan tahan.]

[Kita buktikan nanti!]

Tiba-tiba lampu berkedip-kedip, kemudian mati. Arjuna segera menyalakan HP-nya, mencari gambar senter. Begitu melihat langsung diklik. Senter HP menyala. Tiba-tiba sosok mengerikan di televisi itu muncul di hadapannya. Arjuna menjerit. Tapi suaranya mendadak hilang. Sosok itu meraih tangannya.  Pergulatan pun terjadi. Gadis berseragam SMA itu berusaha mencekik leher Arjuna, tapi tangannya berhasil ditepis cowok itu. Perkelahian mereka membuat barang-barang di kamar Arjuna berantakan. Arjuna berharap orang tuanya mendengar keributan itu. Namun lebih sepuluh menit kengerian itu terjadi, tak ada tanda-tanda orang tuanya terbangun.

Tiba-tiba, entah bagaimana caranya, Arjuna telah berada di sebuah kebun karet dan masih dalam cengkeraman makhluk mengerikan itu. Berkali-kali cowok itu berusaha berteriak. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Sekuat tenaga Arjuna melawan, namun sia-sia. Tenaganya semakin lama semakin lemah. Dia menyerah. Mungkin ini takdir hidupnya. 'Tuhan, ampuni aku,' desisnya dalam hati. Dia pun pingsan.

*** 

Subuh sudah berlalu satu jam yang lalu, namun mama Arjuna belum melihat anaknya keluar dari kamar. Wanita itu pun mengetuk kamar Arjuna, menyuruh cowok itu bangun. Namun tak ada jawaban. Mama Arjuna membuka kamar. Terlihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah. Wanita paruh baya itu merasa heran, karena biasanya kamar Arjuna selalu rapi. Segera wanita itu memanggil-manggil nama anaknya sambil mencari di semua ruangan. Namun tak menemukan yang dicari. Dia pun menuju halaman depan dan samping, tetapi tak ada Arjuna di sana. Wanita itu menjadi panik. Berteriak memanggil suaminya dan mengatakan Arjuna hilang.

*** 

Sudah sehari Arjuna menghilang. Orang tuanya melaporkan kepada polisi. Belum lama polisi bekerja, didapatkan titik terang. Seorang pekerja perkebunan menemukan Arjuna dalam keadaan lemah dan kebingungan di kebun karet. Polisi membawa cowok itu ke kantornya.

Orang tua Arjuna segera menjemput anaknya, kemudian membawa pulang.

“Apa yang terjadi dengan dirimu, Jun?” tanya mama Arjuna dengan linangan air mata kecemasan sekaligus kebahagiaan karena anaknya telah ditemukan.

Arjuna pun menceritakan kisahnya dari awal, saat melihat gadis berkepang dua di sudut kelas itu.

Orang tua Arjuna pun memanggil seorang kyai untuk memberikan doa. 'Memagari' anaknya agar tak diganggu hantu itu lagi.

Pada kesempatan itu Pak Narto pun datang menjenguk. Pria itu tampak termenung ketika mendengar kisah yang di alami muridnya.

Pak Narto terkenang peristiwa dua puluh tahun silam, kala lelaki itu baru menjadi guru.

“Apakah wajah gadis Itu seperti ini?” kata Pak Narto sambil menunjukkan sebuah foto di ponsel. Foto lama yang dia pindai dan simpan di HP. Diambil kala sekokah mengadakan lomba di hari Kartini.

Arjuna tersentak melihat foto itu. “Ini cewek itu, Pak. Cewek yang saya lihat di kelas XI MIPA-3,” kata Arjuna. “Dia siapa, Pak?”

Maka berkisahlah Pak Narto tentang gadis itu.

“Dia bernama Martha. Mencintai siswa tampan  dan populer di sekolah yang bernama Anton. Kau tahu, Anton wajahnya mirip denganmu!” Arjuna tersentak. Kedua orang tuanya pun kaget. “Dia dipermalukan oleh Anton dan gengnya. Anton memacari dalam seminggu, menjawab tantangan gengnya. Kemudian di batas waktu tantangan Anton memutuskannya, disaksikan seluruh anggota geng. Martha dihina dan ditertawakan.” Mata Pak Narto meredup. “Gadis itu depresi, lalu gantung diri.”

Arjuna menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit. Dia sekarang mengerti, kenapa Martha mendatanginya. Dia tak ingin ada gadis lain yang bernasib buruk seperti dirinya.

*** 

Pagi itu Arjuna memasuki kelasnya dengan lesu. Ririe mendekati.

“Kata Tania, bangku di pojok itu kosong. Gak ada gadis di kelasnya yang pakai kacamata,” cerocos Ririe.

“Iya, gue udah tahu,” jawab Arjuna.

“Yeee ... tahu gitu nggak usah capek-capek gue tanya Tania,” gerutu Ririe. “Eh, lu kemarin kenapa gak sekolah?”

“Ada, deh.” Arjuna menjawab sekenanya.

“Denger-denger, lu hilang,” kata Rierie. “Lu hilang beneran apa cuma takut karena gak bikin PR Kimia?”

Sebelum Arjuna menjawab,dua anggota gengnya masuk kelas.

“Gimana, Bro, siap siang ini?” tanya Anggito.

“Nggak. Gue mundur!”

Anggito tertawa keras. “Gak nyangka, lu segampang itu menyerah. Gimana kalau sama Andien?”

“Pale lu peyang!” kata Bimo sambil menoyor kepala Anggito. “Kalau Andien sih semua cowok di sekolah ini juga mau!”

Bel tanda masuk berbunyi. Arjuna mengikuti pelajaran fisika dengan hati yang tenang. Rasanya keputusan yang dia ambil sudah benar. Tak ada main-main jika itu mempermainkan manusia yang lain.

Tak terasa sudah masuk jam istirahat. Arjuna berjalan ke arah kantin, melewati kelas XI MIPA-3. Melihat bangku di sudut, dari jendela kaca. Gadis berkacamata itu duduk di sana, melihat ke arahnya. Arjuna terkesiap. Jantungnya berdebar kencang. Gadis itu tersenyum pada Arjuna, kemudian bayangnya menghilang.

Sebuah tepukan di pundak mengagetkan Arjuna. “Eh, Tania. Salam kek, ini main tepuk aja.” Arjuna bersungut-sungut.”

“Bangku itu kosong, Jun. Gue udah bilang sama Ririe.”

“Iya, gue tahu,” jawab Arjuna. “Ke kantin, yuk!”

“Lu yang traktir, ya?”

“Beres!”

‘Terkadang, pelajaran harus diberikan dengan keras, agar aku mengerti,’ gumam Arjuna dalam hati. Dia melirik sekilas bangku di sudut kelas Tania. Kosong!

Tamat

Ranjang Pengantin Berdarah

By Cattleya

Tak terasa, sudah tiga bulan Ambar tinggal di Wonosukmo sebagai bidan desa. Menurut penduduk di sana, itu suatu prestasi, karena bidan-bidan sebelumnya hanya bertahan paling lama satu bulan. Bahkan ada yang baru seminggu bertugas sudah hengkang. Selalu saja ada hal-hal aneh yang membuat para bidan itu ketakutan dan memutuskan untuk pergi.

Sejauh ini, Ambar baik-baik saja, walau selalu merasa ada seseorang yang mengawasinya. Indra keenamnya berbicara. Meskipun pada kenyataannya, tak pernah memergoki siapa pun.

Ambar hanya bisa merutuki diri. Mungkin dia kesepian, hingga berhalusinasi. Kisah cintanya dengan Ranu belum lama ini berakhir pilu. Meninggalkan kenangan pahit hingga dia merasa harus pergi jauh untuk melupakannya.

Namun kini, keadaan perlahan mulai berubah. Sejak Seno datang menambal hatinya yang koyak setelah kepergian Ranu. Seno, seorang guru SD berwajah tampan. Ternyata, di desa terpencil dekat hutan seperti itu, ada sosok pria menawan sepertinya. Sejak diri Ambar dekat dengan Seno, perasaan seperti diintai itu perlahan pudar.

Sebenarnya Seno bukanlah perjaka. Enam bulan yang lalu, istrinya yang sedang melahirkan dengan bantuan dukun beranak harus menemui ajal. Tapi bagi Ambar, status Seno yang duda itu tidaklah masalah. Wanita itu terpesona pada lelaki itu sejak pandangan pertama. Ketika mereka bertemu pada kenduri yang diadakan kepala desa. Bukan hanya karena wajah Seno yang tampan, tapi juga sesuatu dalam mata pria itu membuat Ambar seakan tertarik ke dalam medan magnet. Semakin lama memandang, Ambar semakin terjebak dalam sesuatu mistis di matanya, yang membuat wanita itu tak kuasa menghindar. Mereka pun berkenalan, kemudian terjadi beberapa kebetulan yang membuat semakin dekat. Tanpa disadari, Ambar sudah demikian jatuh cinta pada lelaki itu.

Ambar, wanita usia dua puluh dua tahun itu kini sedang memasuki ruang kerjanya, Polindes, pondok bersalin desa. Dengan pelan dia membuka jendela, menikmati sepoi angin yang
menyapa wajah.

“Ambar!” Suara yang sangat dikenalnya memanggil. Wanita itu membalikkan badan. Dilihatnya Seno telah berdiri beberapa langkah di depannya, membawa seikat mawar untuknya. Dia mengganti mawar layu dalam vas bunga di meja Ambar dengan mawar segar yang baru saja dibawanya. Seno tahu, sang kelasih sangat menyukai mawar. “Kita jadi pergi nanti siang?”

“Tentu saja.”

“Aku jemput sepulang kerja, ya?”

Ambar mengangguk, memandang punggung lelaki itu menjauh. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Seminggu lagi dirinya akan menikah dengan lelaki itu.

***

Siang itu Ambar dan Seno mengunjungi sebuah deretan toko perabot yang terletak di kota kecamatan. Entah kenapa, Ambar justru tertarik memasuki sebuah toko perabot bekas. Ada beberapa barang yang tampak istimewa di sana. Salah satunya adalah ranjang pengantin yang terbuat dari kayu jati berukir.

“Berapa ini, Pak?” tanya Ambar pada lelaki lima puluh tahunan, pemilik toko.

“Ini? Jika Bu Bidan, mau, saya berikan gratis.”

Ambar terbelalak tak percaya. “Kok gratis, Pak? Apa tidak rugi?”

“Anggap saja ini hadiah pernikahan Bu Bidan dari saya.”

“Dari mana Bapak tahu saya mau menikah?”

Lelaki itu tertawa pelan. “Kita ini satu desa, Bu. Semua orang sudah tahu berita bahagia itu.”

“Oh, maaf.” Ambar mengerling pada Seno. Lelaki itu tersenyum.

“Ini Pak Barata, Mbar. Rumahnya dekat jalan menuju hutan,” kata Seno.

Ambat manggut-manggut. “Baiklah, Pak. Tapi jangan gratis ya, sebut saja harganya,” kata Ambar merasa tidak enak. Pak Barata pun menyebutkan sebuah nominal yang sangat murah untuk ranjang jati yang cukup indah itu.

“Yakin, dengan pilihanmu, Sayang?” bisik Seno. Ambar mengangguk. Seno pun segera membayar ranjang itu.

Ambar tersenyum puas. Kemudian segera meninggalkan toko itu dengan riang.

Pak Barata memandang sejoli itu dengan senyum kebahagiaan. Mata yang biasanya menyorotkan rasa sedih itu kini tampak berbinar. Usahanya selama bertahun tahun sebentar lagi akan membuahkan hasil Target telah masuk ke dalam perangkap.

***

Pernikahan Ambar dan Seno berlangsung sederhana namun sakral. Semua warga berduyun-duyun memberikan selamat kepada kedua mempelai. Kebahagiaan menyelimuti hati Ambar. Bisa bersanding dengan pria tampan dan penyayang itu.

Di kamar pengantin mereka, ranjang jati itu telah mengkilap dipelitur. Dengan untaian bunga di sana sini. Seprei kuning gading menutup kasur busa di bawahnya.

“Ayo, Sayang,” Seno mencium pipi Ambar yang ranum kemudian menarik tangan wanita itu ke ranjang. Wanita itu tersipu.

“Sebentar. Aku ke kamar mandi dulu,” kata Ambar sambil melepaskan genggaman tangan sang suami.

“Jangan lama-lama,” kata Seno. Ambar mengangguk seraya keluar kamar. Sebagai bidan dia ingat betul nasehat dosennya untuk selalu mengosongkan kandung kemih ketika hendak berhubungan intim. Karena hal itu akan menurunkan risiko infeksi saluran kemih pada wanita.

Ambar memasuki kamar mandi. Ada aroma aneh yang tercium. Semakin lama, aroma itu semakin menyengat. Bergegas Ambar duduk di kloset, menuntaskan hajatnya.

***

Seno tersenyum melihat istrinya memasuki kamar. Tanpa banyak kata mulailah dicumbui sang istri. Ambar memberikan balasan yang tak kalah panas. Malam pertama pun berlangsung dengan menggairahkan. Tetesan darah menempel di seprei. Seno terkapar puas. Matanya terpejam. Senyum menghias bibirnya.

***

Ambar tersentak. Seperti terbangun dari lamunan yang panjang. Entah sudah berapa lama dia duduk di kloset itu.

Bergegas dipencetnya tombol penyiram WC. Wanita itu tersenyum senang karena sang mertua menyiapkan rumah dengan fasilitas yang cukup mewah untuk ukuran sebuah rumah di kampung.

Ambar berjalan ke kamarnya dan mendapati sang suami telah tertidur. Enggan membangunkan, dia pun segera naik ke ranjang. Tampak beberapa tetes darah menodai sepreinya. Keningnya berkerut hebat. Apa yang sebenarnya terjadi? Dilihatnya wajah sang suami yang tampak tersenyum dalam tidur.
Ambar memutuskan untuk berbaring di sisi suaminya dengan tanya yang berkecamuk dalam dada.

***

Adzan Shubuh berkumandang. Seno terbangun dan melihat istrinya masih tertidur. “Bangun, Sayang,” bisiknya.

Ambar hanya menggeliat. Wanita itu tak kuasa membuka matanya. Dia batu tertidur dini hari karena perasaan gelisah.

Bidan muda itu terbangun ketika matahari sudah tinggi. Sang suami tak berada di sisinya. Dengan mata yang masih mengantuk dia menyeret langkah keluar kamar. Dilihatnya Seno duduk di meja makan yang telah penuh dengan aneka makanan. Mungkin mertua atau kakak iparnya yang menyiapkan itu semua.

“Maafkan aku, Mas.” Ambar menghempaskan tubuhnya di kursi.

“Tak apa,” kata Seno sambil mengelus kepala sang istri. “Terima kasih yang tadi malam.” Seno tersenyum manis.

“Apa?” Mata Ambar membelalak.

“Kamu sungguh hot.”

“Kamu mimpi!” Ambar bersungut-sungut.

“Mungkin.” Seno menjawil pipi ranum istrinya. “Kalau begitu, aku ingin tiap hari bermimpi seperti itu.” Seno tertawa menggoda. Ambar tampak manyun. Ada hal yang ingin ditanyakannya namun dia merasa sungkan.

Tujuh malam berikutnya, Ambar pun mengalami hal yang sama. Seperti kehilangan kesadaran saat memasuki kamar mandi dan ketika masuk kamar mendapati sang suami telah tertidur dengan wajah kelelahan namun terlihat puas. Juga ada bercak darah di atas seprei.

Sudah seminggu dirinya menikah dengan Seno, namun tak sekali pun dijamah oleh sang suami. Hal itu membuat Ambar tak tahan lagi menyimpan gundah hati. Wanita itu menceritakan semua pada sang suami.

“Jadi, selama ini aku melakukannya dengan siapa?” Seno diliputi kengerian. Bulu kuduknya merinding membayangkan dirinya bercinta dengan sesuatu yang tak kasat mata.

Ambar menggeleng. “Tahukah Mas kenapa aku mengganti sepreinya tiap hari? Ada bekas noda darah di sana.”

Seketika wajah Seno memucat. Bulu kuduknya semakin meremang hebat. “Ambar, bagaimana kalau kita jangan berhubungan intim dulu sampai misteri ini terkuak?”

Ambar mengangguk. Tiba-tiba dia merasa gerak-gerik mereka diintai.

***

Rumah kecil di dekat hutan terlihat sepi. Pemiliknya, Barata, sedang membakar dupa dan merapalkan mantra. Menghadap sebuah kerangka manusia yang diberinya gaun putih berenda. Sementara malam, bulan, dan lolongan srigala saling melengkapi sebentuk kengerian.

“Sebentar lagi, Nimas. Sebentar lagi kita akan bersatu kembali. Seperti dulu.” Barata berbicara pada kerangka istrinya, yang meninggal dua puluh tahun lalu.

Dengan ilmu yang telah didapatnya dari seorang pertapa sakti, Barata akan menghidupkan kerangka istrinya. Mencuri jiwa sepasang pengantin yang mempunyai tanggal lahir seperti mereka berdua.
Perlahan, kehidupan dalam diri Seno akan dihisap tubuh Nimas, melalui persetubuhan yang mereka lakukan di atas ranjang keramat mereka.

Kerangka Nimas digerakkan oleh mantra sakti yang dirapalkan Barata. Mantra itu juga bisa membuat Nimas menyerupai sosok Ambar.

Malam mulai larut. Nimas sudah bangkit dari tidurnya. Memandang sang suami sekilas dan dalam sekejap mata sampai di kamar Ambar dengan menembus dinding-dinding yang ada.

Tampak oleh Nimas, Ambar dan Sena telah tidur berpelukan. Mantra sirep yang dikirim Barata sebelum Nimas memasuki kamar telah bekerja sempurna. Dia tahu, sepasang suami istri itu masih ingin berjaga untuk menguak misteri sosok Ambar palsu. Namun kini mereka telah dibuat tidak berdaya.

Nimas melintas di depan kaca rias. Dia berhenti sejenak. Memandang wajahnya di cermin. Kerangkanya sudah mulai ditutupi daging. Matanya tampak melotot tanpa adanya kelopak dan kulit yang menutupi wajah serta seluruh tubuhnya. Dia harus bersabar. Empat puluh hari setelah bercinta dengan Seno, tubuhnya akan menjadi sempurna. Dilengkapi dengan tetesan darah Ambar, maka jiwanya akan terlahir kembali.

Tak membuang waktu, dengan acungan telunjuknya, tubuh Ambar berpindah ke sofa. Nimas membangunkan Seno. Dengan kekuatan mistis, membuat lelaki itu tak bisa menguasai diri. Dia mencumbui tubuh Nimas dengan penuh gairah.

Setelah selesai, Nimas mengembalikan tubuh Ambar di posisi semula. Sementara Seno merasa telah bermimpi bersetubuh dengan istrinya.

***

Ambar menatap wajah sang suami, pucat seperti kurang tidur, atau kurang darah.

“Mas, kamu seperti nggak sehat.”

Seno memandang wajahnya di cermin. Sepertinya Ambar benar, dirinya tidak sehat. Tubuhnya pun terasa lemah.

Ambar segera memeriksakan suaminya ke dokter. Seno didiagnosis menderita anemia dengan penyebab yang belum dapat dipastikan. Lelaki itu tak mau dirawat di rumah sakit meski dokter menganjurkan.

Kini, Ambar hanya terpaku memandangi tubuh sang suami yang terbaring lemah di ranjang. Hatinya gelisah. Merasakan ada yang salah dalam pernikahan mereka. Bahkan sampai detik itu Ambar masih perawan dan suaminya menderita sakit yang aneh.

Orang tua Seno sangat kuatir dengan keadaan anaknya. Karena pengobatan medis tak menunjukkan hasil, mereka sepakat memanggil seorang paranormal.

Paranormal yang dipanggil orang tua Seno mengatakan, kalau lelaki itu sedang diguna-guna. Dia memberikan jampi-jampi dan penangkal di sekitar ranjang yang ditiduri Seno.

Penangkal yang mengelilingi ranjang Seno hanya membuat Nimas yang datang malam harinya merasa sedikit terganggu. Dengan kesaktian yang dimiliki Barata, Nimas bisa menembus rintangan yang dibuat paranormal itu. Kembali makhluk itu menyetubuhi Seno dengan penuh kenikmatan. Tubuhnya menjadi bertambah segar. Namun, Seno hanya merasa bermimpi tengah bercinta dengan sang istri. Lelaki itu tak merasa aneh. Dia mengira mimpi itu terjadi karena dirinya menahan keinginan bercinta dengan Ambar.

Di malam ke empat puluh, Nimas datang untuk menggenapi syarat. Seno pun menghembuskan nafas terakhir setelah bercinta dengan Nimas. Lelaki itu terbujur kaku kehabisan darah. Semua energi kehidupannya telah diambil dengan purna. Pagi harinya sang istri terkejut ketika mendapati Seno sudah tak bernyawa lagi. Tangisnya pun pecah penuh kepiluan.

Duka dan kegelisahan menyelimuti hati bidan muda itu. Segala keanehan yang terjadi diungkapkannya pada sang mertua. Namun, orang tua Seno tetap berpendapat bahwa semua itu karena guna-guna. Mereka berharap Ambar bersabar atas musibah itu.

“Ibu, besok pagi saya akan kembali ke kota,” kata Ambar pada sang mertua.

“Ambilah cuti beberapa waktu, sampai dirimu tenang,” kata sang mertua sampil membelai rambut Ambar.

“Maksud saya, saya ingin berhenti menjadi bidan di sini.”

Sang mertua memandang wajah Ambar dengan sendu. Wanita tua itu cukup memahami trauma yang dirasakan Ambar. “Semoga kamu kembali ke sini, Nak. Desa ini membutuhkanmu.” Sang mertua memeluk Bidan muda itu. “Sekarang, tenangkan dulu hatimu.”

Ambar mengangguk. Terisak dalam pelukan ibu mertua.

***

Malam itu terasa amat sunyi. Para pelayat dan orang-orang yang tahlilan sudah beberapa saat lalu pergi. Ambar membuka lemari dan mulai mengeluarkan baju-baju miliknya untuk dimasukkan ke dalam koper. Sejenak dia memandang foto pernikahannya. Wajah mereka tampak bahagia. Kini kebahagiaan itu telah direnggut paksa entah oleh siapa.

Ambar mendesah. Memandang sekilas jarum jam yang menunjukkan pukul dua belas malam. Dirinya baru saja hendak merebahkan badan ketika mendengar suara ketukan di pintu. Mungkin itu mama mertua yang malam ini tidur di rumahnya. Walau rumah mertua hanya berada di sebelah.

Ambar turun dari ranjang dan membuka pintu. Tampak sosok mengerikan dengan mata melotot tanpa kelopak dan otot-otot tubuhnya tak tertutup kulit. Ambar menjerit. Berusaha mendorong makhluk itu dengan kotak tisu yang secara serampangan diraih dari meja riasnya, kemudian berlari ke kamar sang mertua untuk mencari bantuan. Namun mama mertua tak membuka pintu meski gedoran di pintu cukup keras hingga tangannya sakit.

Merasa tak mungkin mengharapkan sang mertua, Ambar lari menuju pintu belakang, keluar dan mulai berteriak-teriak, berharap para tetangga bangun. Namun, sampai serak suaranya, tak ada seorangpun yang keluar dari pintu tetangga. Sementara makhluk mengerikan itu mengikutinya dari belakang.

Ambar berlari ke arah pos ronda, namun sepi. Hasip yang biasanya berjaga, tak kelihatan batang hidungnya. Ambar terus berteriak dalam keremangan malam yang disinari bulan purnama. Di pertigaan jalan, muncul Barata dengan pedang terhunus dan sosok Seno yang menyerupai mayat hidup.

Ambar terus berlari dan berteriak. Meski teriakannya seperti angin lalu. Desa itu seperti desa mati tanpa penghuni. Langkahnya terseok. Lelah membuat otot-otot kakinya melemah, larinya melambat.

Tanpa terasa Ambar sampai di sisi hutan. Jalannya buntu. Satu-satunya tempat bersembunyi hanya hutan yang masih dipenuhi ular berbisa dan binatang buas lainnya. Wanita itu nekat memasuki hutan. Bibirnya tak lagi berteriak. Bidan muda itu mulai pasrah. Merapalkan doa-doa yang dihafalnya, sambil terus berjalan masuk hutan. Batang-batang tanaman perdu menggores kakinya. Perih tak lagi terasa. Kalah oleh rasa takut pada mahluk tanpa kulit yang mengerikan itu, juga Barata yang membawa pedang serta mayat hidup Seno.

Dalam kepanikannya, bidan muda itu mencoba memahami apa yang terjadi. Namun nihil. Otaknya tak mampu memberikan jawaban atas semua keanehan ini. Perlahan air matanya meleleh. Dia merasa kematiannya semakin dekat.

Ambar menghentikan langkahnya. Duduk di akar besar sebuah pohon. Kakinya tak kuat lagi berjalan. Wanita itu berusaha melihat sekeliling. Namun hanya kegelapan yang ada. Rimbun tanaman tak mampu ditembus cahaya bulan.

Setelah cukup beristirahat, Ambar kembali berjalan tak tentu arah. Kali ini dia berada di tempat yang pohonnya tak terlalu rimbun. Kini tampak di depannya sebuah jurang.

“Menyerahlah, Bu Bidan.”
Suara itu mengejutkan Ambar. Wanita itu berbalik. Tampak di depan, Barata dengan pedangnya yang berkilat ditimpa cahaya bulan.

“Apa yang kamu inginkan dariku!” teriak Ambar.

“Aku hanya ingin nyawamu, untuk menghidupkan istriku!”

“Kau gila! Jadi monster itu istrimu?” Ambar kini mulai memahami apa yang terjadi. Tapi kenapa harus dirinya dan sang suami yang dijadikan tumbal?

“Diam! Serahkan saja nyawamu!”

“Tidak akan!”

Barata tertawa. Meningkahi lolongan serigala di kejauhan. Tiba-tiba muncul makhluk itu di sisi kirinya dan Seno yang sudah berwujud mayat hidup di sisi kanannya. Tak ada jalan untuk melarikan diri. Kecuali jurang di belakangnya.

“Bertaubatlah, Pak Tua, jalanmu sesat!” Ambar berusaha melawan dengan kata-katanya. Berharap keajaiban akan terjadi.

“Jangan mengajari orang tua!” Barata mendengkus kesal. Perlahan dia mulai berjalan mendekati wanita yang ketakutan itu. Zombi dan makhluk tak berkulit itu pun kian mendekat. Ambar merasakan tubuhnya gemetar dan dingin. Jantungnya berdetak cepat. Pandangannya tak sekejap pun lepas dari tiga mahkluk itu.

Dalam keadaan terdesak, Ambar cepat membuat keputusan, sebelum semua terlambat. “Ya Allah, ampunilah segala dosaku,” ucap Ambar sambil melompat ke jurang. Lebih baik dirinya mati di sana daripada menyerahkan hidupnya pada iblis.

Air mata wanita muda itu meleleh di pipi. Tubuhnya terus melayang ke bawah. Mungkin inilah akhir riwayatnya.