Jumat, 29 Desember 2023

KETIKA ISTRI GENDUT BERUBAH LANGSING SETELAH DISIA-SIAKAN 1

 


“Kita berpisah saja setelah aku pulang satgas!” ucap Raswan seraya memanggul tas ranselnya sebelum masuk ke dalam barisan di tepi dermaga.
Tahun 2021 ...
Dua KRI—Kapal Perang Republik Indonesia—sudah bersiap memberangkatkan para pasukan yang akan bertugas di pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland.
“Iya, Mas,” jawab Nena—istrinya Raswan.
Wanita bertubuh gemuk itu pasrah saja. Ia menyadari sudah tidak ada kecocokan di antara keduanya. Rumah hijau sederhana mereka akhir-akhir ini hanya dipenuhi pertengkaran demi pertengkaran. Nena tahu pasti ada wanita lain di hati suaminya.
Raswan pergi begitu saja, bergabung dengan para prajurit lainnya. Ibu satu orang anak itu memandang punggung suaminya dengan sorot mata sedih.
Kalau ini menjadi akhir, Tuhan, izinkan aku siap menghadapi ....
Nena memandang ke kanan kirinya, para suami berpamitan ke istri tercintanya dengan suasana penuh haru. Kecupan di kening ditinggalkan oleh para prajurit untuk istrinya sebagai isyarat rasa kasih dan sayang walau sebentar lagi mereka akan dipisahkan oleh jarak. Tak sedikit para istri yang melepas kepergian suaminya yang bertugas dengan tangis air mata. Hanya Nena yang menangis tidak dengan alasan itu. Ia menangisi diri sendiri karena dicampakkan.
Tibalah para pasukan berjajar rapi masuk ke atas KRI. Keluarga yang ditinggalkan serentak histeris dan berlari lebih dekat ke tepi dermaga untuk mengantar yang terkasih. Mereka lari membabi buta demi demi bisa terlihat oleh suami mereka dari atas kapal. Nena pun ditabrak sana-sini karena tetap berdiri mematung seraya menatap sedih ke arah KRI yang akan berangkat tersebut.
“Gendut, minggir!” maki seorang rekan sesama istri tentara yang kerap menghina Nena di asmil (asrama militer). Makiannya menambah rasa sakit di hati Nena. Ia pun minggir, menjauh, tanpa ada satu pun yang memperhatikannya.
Dari kejauhan, ibu muda yang datang tanpa riasan itu menatap para prajurit yang melambai penuh haru pada istri yang ditinggalkannya, kecuali satu orang yang tak melakukannya, yaitu Raswan. Suaminya justru terlihat sedang menelepon seseorang.
Nena membalikkan tubuh, tangisannya semakin deras di tengah kerumunan.
Cukup, ini terakhir kali aku menangis untukmu, Mas ....
**
Seminggu kemudian ....
Sudah tidak bisa mengandalkan keuangan keluarga dari Raswan, Nena berusaha mencari kerja untuk kebutuhan hidupnya dan putra semata wayangnya. Satu per satu toko, bidang usaha, industri didatanginya. Jawabannya tetap sama, tidak ada lowongan kerja, bahkan banyak pengurangan karyawan efek pandemi.
Nena duduk sebentar di halte tanpa melepas maskernya. Kepalanya bersandar lemah di tiang penyangga sambil menunggu bus.
Gimana nasibku. Harus meyambung hidup pakai apa?
Lowongan kerja dari portal online juga sudah dicoba Nena dengan mengirimkan lamaran kerja dan CV melalui pesan surel, tetapi saat ada panggilan wawancara langsung, rata-rata pencari kerja yang lulus adalah yang bertubuh ideal.
Di seberang halte, beberapa anak yang diduga Nena adalah para pemulung atau pengamen cilik sedang berlari tertawa dan saling berkejaran terlihat begitu damai.
Meraka begitu bebas, seperti tak ada beban, tak terpengaruh dengan pandemi berkepanjangan ini, tak peduli bagaimana dunia memutarbalikkan kehidupan, lirih Nena dalam hati. Wanita berambut lurus sebahu itu memperhatikan langkah-langkah kecil yang terasa bebas. Tak punya belenggu apa pun yang mengikat. Nena pun berdiri, mengikuti jalan ke arah pulang.
Awal-awal, Nena masih berjalan. Semakin lama, langkahnya semakin cepat dan berubah jadi langkah berlari.
Seperti ini rasanya berlari cepat ....
Air matanya berderai, tetapi bibirnya tersenyum. Dia merasa bebas, sejenak belenggu hidup lepas.
Nena terus berlari, dia mulai ketagihan dengan aktivitas barunya itu.
**
Tahun 2022 ....
Embusan napas pendek, cepat, mengiringi irama langkah berlari Nena. Kerikil-kerikil di sepanjang jalan ditebas dengan langkah kuatnya. Wajah ibu muda itu serius menatap ke depan. Sinar matanya kuat, tak menggoyahkan keyakinannya bahwa dengan terus berlari ia berharap semua dilemanya akan mengikis.
Kedua tangannya berselaras bergerak mengimbangi langkahnya. Dalam larinya ketika kenangan pahit bermunculan, ia semakin memicu langkahnya lebih cepat.
Kenangan pahit itu muncul setiap waktu, menggedor-gedor ruang hatinya tanpa kenal waktu. Lembaran kenangan itu meninggalkan luka.
Semua bermunculan, ketika pertama kali mengetahui chat WhatsApp mesra suaminya dengan wanita lain, ketika menyadari suaminya sering berbohong sibuk dinas luar padahal bertemu dengan wanita itu, ketika menemukan surat pembelian cincin emas yang ia kira untuknya ternyata bukan, ketika menemukan foto suaminya dan wanita itu di ponsel yang diberi password dan akhirnya mereka bertengkar hebat. Pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi, Nena lelah. Memilih pasrah dan menyudahi segalanya.
Setiap teringat itu Nena memilih berolahraga, berlari yang paling sering dijalaninya, berharap dengan berlari semua kenangan pahit itu teralihkan, entah berapa kali dalam sehari ia berlari, kadang 3-4 kali dalam sehari, pagi siang sore dan kadang malam.
Telah enam bulan berlalu. Nena mengistirahatkan diri duduk di depan parkiran tank. Napasnya memburu melepas lelah. Ia luruskan kaki ketika duduk.
Angin sore lumayan kencang hingga rambutnya bergoyang dikibas angin. Parkiran begitu sepi karena penghuni asrama rata-rata berkumpul di lapangan voli.
Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya yang menyelonjor.
Dua orang ibu muda yang berjalan dari lapangan voli melirik takjub ke Nena.
“Bu Raswan!” sapa mereka, masih memanggilnya dengan embel-embel nama suami.
Nena mendongak. ”Eh, iya Bu Hari?”
Bu Hari dan Bu Erwin berhenti sekadar mengagumi perubahan tubuh Nena. “Kok bisa langsing begini, Bu? Diet ketat ya?” tanya Bu Hari.
Nena yang sama sekali tidak merasa langsing justru bingung.
“Bu Har, jangan bikin saya tambah down,” ucap Nena yang mengira pujian dua rekan sesama istri tentara itu bak majas ironi, bertentangan.
Kedua ibu muda itu justru bengong.
Dipuji kok malah bikin down?
Ibu muda itu berlari lagi, meninggalkan kedua rekannya. Setiap ada yang mengomentari tubuhnya, Nena jadi tidak percaya diri. Dianggapnya itu adalah sindiran. Nena memang belum sadar jika berat tubuhnya turun drastis.
Selama enam bulan ini, dia selalu menghindari kaca maupun cermin karena yang terbayang adalah wajah menyedihkannya. Cermin di rumahnya dilapisi koran lantaran niatnya untuk cepat move on dari segala beban.
Wanita bertubuh tinggi itu belum menyadari penuh bentuk tubuhnya yang sekarang telah berubah.
Baju-baju lama tetap dipakai Nena, walau longgar, dia tidak ingin meyakini kalau longgar. Menganggap bajunya yang cepat melar sehingga dia menjahit atau mengikat sekadarnya saja. Ia pun menghindari bertemu orang-orang, saat olahraga selalu mencari tempat yang sepi. Berkeliling di saat-saat orang jarang berlalu lalang. Nena menjadi tertutup karena ingin menguatkan mental saat menghadapi perceraian nanti. Terkadang omongan tetangga justru tidak membuatnya berpikir jernih.
Nena terus berlari, menyemangati diri.
Satu bulan lagi Mas Raswan pulang satgas, aku harus sudah siap berpisah.
***
Judul di aplikasi: RUN 2022 (Tamat)
Penulis: Buku Tentara Polisi Buku Bunga Btp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar