Rabu, 09 September 2020

Lowongan Kerja Online Freelance tanpa syarat pendidikan



ini adalah pekerjaan freelance untuk kalian yg lagi butuh banget penghasilan. Kenapa hanya untuk orang yg butuh banget penghasilan? Karena pekerjaan yg satu ini penghasilannya ga besar,  sekitar $0,5 sampai $1,5 per jam. Jadi memang sebaiknya untuk orang yg sangat membutuhkan penghasilan. Bisa dapat lebih tinggi dari itu jika akurasi, kecepatan, dan jumlah jam kerjanya tinggi. Semakin banyak jam kerja kalian, semakin tinggi bayaran per jamnya. Begitu pula dengan akurasi dan kecepatan.

Pekerjaannya seputar annotation, terbagi menjadi 2: 2D annotation dan 3D annotation. Singkatnya, ada gambar 2D atau 3D yg harus kalian anotasi untuk menunjukkan objek apa saja yg ada di gambar itu. Yg 2D annotation lebih mudah tapi bayarannya lebih rendah dan spek komputer bisa lebih rendah juga. Kalau 3D annotation, lebih kompleks dan butuh spek yg lebih tinggi (ga bisa spek kentang), tapi bayarannya juga lebih tinggi. saya sarankan pake Microsoft Edge yg paling ringan.

Hasil dari pekerjaan kalian akan digunakan untuk berbagai macam teknologi salah satunya robotik. pernah dengar ada mobil yg bisa jalan sendiri tanpa supir? nah data-data perkerjaan kalian akan digunakan untuk mengembangkan teknologi itu. dari situlah kalian mendapatkan upah.

Sebelum kalian mulai kerja tentu saja kalian harus melewati tahapan training dulu. Setiap project trainingnya beda. Tapi trainingnya tidak lama. Paling 2-3 hari udah selesai kalau dikerjain full.

jam kerjanya bebas kalian bisa ambil berapapun atau kapanpun tidak ada jam kerja tapi setiap tugas harus diselesaikan kurang dari 2 hari karena jika lewat mala perkerjaan dianggap hangus dan akan diserahkan ke orang lain dan kalian harus mulai pekerjaan lainnya dari awal.

Upah dikirim via Paypal setiap minggu sekitar hari kamis.

PERINGATAN !! SEMUA KETERANGAN MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS

Link daftarnya disini: https://www.remotasks.com/r/BCURRPUB

Senin, 07 September 2020

Isabella Guzman




Isabella Guzman, gadis kelahiran tahun 1995 asal Colorado, Amerika Serikat tega menghabisi nyawa ibunya sendiri dengan menikam wajah dan leher ibunya sebanyak 151 kali. Akibat tindakannya itu, Isabella disebut-sebut sebagai salah satu sosok perempuan berdarah dingin di dunia, meskipun faktanya dia punya gangguan kejiwaan karena orang tuanya bercerai sewaktu ia masih kecil.

Sebelum pembunuhan sadis itu terjadi, Isabella dan Ibunya, Yun-Mi Hoy, diketahui kerap bertengkar, terutama semenjak Ibunya menikah lagi. Menurut keterangan aparat setempat, dari hari ke hari Isabella semakin sering melawan ibunya, yang diduga karena kesal ibunya menikah lagi. Ia dianggap semakin mengancam dan durhaka.

Pada tahun 2013, Isabella melancarkan aksinya di rumah ibunya di blok 2600 Jalan South Lima, Colorado, Amerika Serikat. Sehari sebelum menikam ibunya, Isabella juga sempat mengirimkan surel (email) kepada ibunya yang isinya "Kau akan menebusnya".

Ketika menerima surel itu, ibunya sempat menelepon kepolisian dan meminta datang ke rumahnya. Polisi pun datang memenuhi permintaan ibunya. Setelah berbicara dengan Yun-Mi Hoy dan Isabella, petugas memutuskan ada "masalah keluarga yang sedang berlangsung di antara mereka dan tampaknya sudah diselesaikan," menurut pernyataan di dokumen pengadilan.
 
Ryan Hoy (ayah tiri Isabella) memberi tahu pihak berwenang bahwa setelah petugas pergi, Isabella pergi ke kamar tidurnya sementara Yun-Mi Hoy kembali bekerja.

Ketika Yun-Mi Hoy tiba di rumah sekitar pukul 21:30 malam, dia langsung naik ke atas untuk mandi. Ryan mengatakan kepada polisi bahwa dia kemudian mendengar suara dentuman dari lantai atas dan istrinya itu memanggil namanya.

Ryan mengatakan kepada pihak berwenang bahwa ketika dia mencoba membuka pintu kamar mandi, Isabella mendorongnya dengan punggungnya agar tetap tertutup.

Ryan kemudian turun ke bawah, menelepon 911 dan mengatakan kepada petugas operator bahwa istri dan putrinya ada di dalam kamar mandi dan dia bisa melihat darah mengalir dari bawah pintu ke kamar mandi. Dia juga memberi tahu polisi bahwa ketika dia kembali ke atas, dia melihat Isabella berdiri di ambang pintu kamar mandi sambil memegang pisau.

Polisi menemukan jasad Yun-Mi Hoy dalam keadaan mengenaskan di dalam kamar mandi lantai dua berselang beberapa jam kemudian. Isabella kemudian diringkus dalam waktu 16 jam semenjak ditetapkan sebagai buronan. Ketika itu, usianya masih 18 tahun. Kini, ia sudah 25 tahun.

Ketika disidang di pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, Isabella sempat tersenyum kearah kamera wartawan yang menyorotnya.

Pengadilan Colorado sendiri memvonis Isabella tidak bersalah. Ia dikirim ke Rumah Sakit Pemerintah di Pueblo untuk menjalani perawatan kejiwaan alih-alih dikirim ke penjara. Menurut keterangan dokter yang merawatnya, dr Richard Pounds, Isabella didiagnosa mengalami paranoia schizophrenia.

.
SC: Tribunnews

Kamis, 03 September 2020

Axiom


Written by: Seputo Shirega
___________________________

Kicauan burung terdengar sangat jelas seolah mereka sedang terbang hanya beberapa meter saja di atas kepalaku. Tak hanya itu, hembusan angin begitu terasa menerpa tubuh seperti aku sedang terbang bersama burung-burung ini.


Lalu dengan perlahan aku mencoba membuka mataku dan tampaklah sebuah pemandangan kota pada siang hari yang begitu terik. Ratusan gedung pencakar langit menghiasi setiap sudut kota ini. Bahkan saat ini aku tengah berdiri di salah satu gedung pencakar langit yang paling tinggi.

Aku merinding saat ujung sepatuku hampir tak lagi menapak pada tembok pembatasnya. Dengan cepat aku mendorong tubuhku ke belakang karena  jatuh dari ketinggian seperti ini adalah akhir dari segalanya.

Kucoba berdiri lalu kembali menatap pemandangan kota itu. Mencoba mengingat-ingat apa yang membuat aku bisa berdiri di atap pencakar langit yang paling tinggi ini.

Namun usahaku sia-sia. Tak ada ingatan yang terbesit saat aku mencobanya. Semuanya terlihat hitam dan hanya sakit kepala yang kudapat jika aku memaksa mengingatnya.

Perlahan kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat itu. Di ujung sana terdapat pintu bertuliskan 'Exit' di atasnya.

Ekspetasiku berbeda. Saat pintu itu kubuka, yang kujumpai hanya sebuah lorong pendek dengan ujung lorongnya terdapat tangga yang melika-liku sampai ke lantai terbawahnya. 

Tak ada pilihan lain. Aku memang tak menemukan apapun selain lorong sepi dan tangga ini. Dengan cepat aku menuruninya hingga aku sampai satu lantai di bawah atap tadi. Lalu memutar kemudian menuruni tangga ini lagi sampai aku benar-benar mencapai lantai terbawahnya.

Di bawah begitu sepi, beberapa kertas yang berterbangan menyambutku seolah tertiup angin. Aku yakin ini adalah lobby sebuah kantor perusahaan. Namun tak ada siapapun disini.

Ya, aku tak bisa mengingat apapun. Tentang bagaimana aku bisa berdiri di atas atap tadi semetara kantor ini terlihat sangat sepi.

Kucoba meraih gagang pintu keluarnya, namun itu terkunci. Lalu saat aku menoleh, terdapat sebuah pintu besi lain di ujung lorong. Beruntungnya, pintu besi itu tak terkunci.

Saat di luar aku pun kembali dibuat keheranan pasalnya hari tiba-tiba sudah malam padahal saat aku di atas tadi masih terasa panas teriknya. Menyadari bahwa saat ini aku berada di area belakang gedung ini, ku lirik kiri dan kanan namun tetap tak menemukan siapapun selain sebuah sepeda yang tersandar di tembok.

Dengan perasaan gelisah dan penuh tanda tanya aku menyusuri kota sepi itu sendirian bersama sepeda ini. Listrik tetap menyala, hanya saja seperti tak ada kehidupan disini.

Kerongkonganku yang terasa kering memaksaku untuk menghentikan sepedaku di sebuah supermarket. Siapa sangak akhirnya aku menemukan seseorang di kota ini. Dia adalah pemilik supermarket itu yang sedang merapikan meja kasirnya.

Dengan suasana hati yang gembira aku mengambil sebotol minuman soda lalu akan mengobrol sedikit dengannya tentang kota yang terlihat aneh ini.

Namun aku salah. Saat hendak membayar minuman ini, pemilik supermarket itu berbalik dan memperlihatkan kedua bola matanya yang hitam pekat menatap tajam ke arahku.

Seketika aku merinding, yang kulihat bukanlah sesosok manusia. Aku tak tahu pasti makhluk apa itu, yang jelas saat ini aku harus pergi menjauh dari tempat aneh ini.


Sangkin paniknya, aku sampai lupa untuk mengambil sepeda yang tadinya kuparkirkan.

Itu tak penting sekarang, tempat ini benar-benar aneh. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan makhluk apa tadi itu. Tapi yang jelas saat ini aku tak berani untuk berbalik.

Beruntungnya di sebuah sudut ruko aku melihat sepasang kekasih tengah asik berciuman. Aku pikir akan selamat jika meminta pertolongan mereka.

Namun, saat aku sudah sampai, yang kulihat justru hal menakutkan lainnya. Kedua mata pasangan itu juga menghitam pekat. Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Aku berlari tanpa arah hingga memilih untuk memasuki sebuah toko permainan arcade yang kuyakin pasti ada seseorang di sana yang bisa menolongku.

Suasana sepi menyelimuti toko itu. Satu per satu mesin game yang di susun berjejer bermain dengan sendirinya tanpa ada yang memainkannya. Hingga saat berbelok disebuah game casino, dua orang berpakaian pegawai toko itu berdiri membelakangiku.

Berkali-kali kucoba memanggil mereka berdua namun tak ada jawaban sampai saat kuputuskan untuk mendekat, mereka berbalik dan lagi, kedua mata mereka hitam pekat.

Ini sudah tak masuk akal. Tempat ini ... bukan, kota ini benar-aneh. Semua manusia yang kutemui di kota ini terlihat seperti mayat hidup saja.

Aku pun berlari menuju pintu keluarnya. Namun sepertinya pikiranku telah di manipulasi. Seolah tempat ini membentuk sebuah labirin aneh.

Tak berpikir panjang aku memilih berlari lurus ke depan sampai menemukan pintu. Ya, meskipun bukan pintu keluar yang tadi, setidaknya aku harus keluar dari tempat ini dulu.

 Tak ada yang bisa kupercaya lagi. Semua orang yang kutemui pasti memiliki mata hitam menyeramkan itu. Apa arti semua ini? Mengapa aku bisa berada di kota aneh seperti ini?

Area belakang toko permainan arcade itu merupakan sebuah parkiran. Di tangga kulihat seorang tunawisma berjaket kuning tengah duduk sambil menghirup tembakaunya.

Siapapun dia, aku berani bertaruh dia juga salah satu dari mayat itu. Benar saja, saat dia mengangkat wajahnya dapat kulihat kedua bola matanya yang hitam pekat sedang menghembuskan asap tembakaunya.

Pikiranku kacau. Aku tak tau mau kemana. Meminta tolong bukanlah jalan terbaik, karena sejauh ini semua yang kutemui adalah mayat hidup. Satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah pergi dari kota ini sejauh mungkin.

Tapi sebelum itu aku membutuhkan kendaran yang lebih dari sebuah sepeda.

Sembari menghindari tunawisma yang kini hendak bangkit berdiri itu, aku memeriksa satu per satu mobil yang terparkir berharap ada satu mobil yang pemiliknya lupa melepas kuncinya.

Beruntungnya, aku menemukannya! Sebuah mobil sedan berwarna biru gelap. Saat kucoba beberapa kali untuk menyalakannya, mesinnya tak mau menyala, sementara tunawisma itu sudah berdiri di samping jendela sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil ini dengan mata hitam pekatnya itu. Lalu saat percobaan kesekian akhirnya mesinnya menderu pertanda siap untuk berangkat.

Tanpa pikir panjang, aku menginjak pedal gas sekencang mungkin meninggalkan mayat hidup itu.

Dengan sebuah kendaraan, aku berjalan tanpa tujuan menyusuru jalanan kota yang sepi tak berpenghuni. Suasana kelam begitu terasa saat beberapa lampu etalase toko sesekali berkedip.

Hingga akhirnya perjalananku berhasil membawaku keluar dari perkotaan. Hanya ada ilalang di kiri dan kanan. Kabar buruknya bahan bakar mobil ini telah habis dan berhenti total di tempat paling tidak menguntungkan.


Aku terjebak dalam kondisi kian serius. Tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku memilih berlindung di dalam mobil sambil sesekali memandang sekitar berharap tak ada mayat hidup yang menyadari keberadaanku.

Cukup lama aku terjaga sampai akhirnya kelopak mataku memberat dan akhirnya membuatku tertidur di atas roda stir mobil ini.

*

Matahari terbit tepat di depanku. Cahayanya yang menyilaukan memaksaku untuk membuka kedua mataku.

Pagi telah tiba dan aku menyadari bahwa kondisiku saat ini sama saja. Tak punya tujuan dan tersesat tanpa makanan apapun.

Aku menatap kaca spion untuk mengumpulkan kembali kesadaranku sepenuhnya dengan cara menepuk-nepuk pelan kedua pipiku.

Namun sesuatu tak terduga terjadi. Sekelebat aku melihat di pantulan kaca spion mobil bahwa bola mataku berubah menjadi hitam untuk sesaat.

Sepertinya suatu virus secara tak sengaja menginveksiku ketika masih berada di kota aneh itu. Dan aku mulai menunjukkan gejalanya.

Jika memang, aku harus mencari bala bantuan secepatnya. Meski harus berjalan kaki, aku tak peduli. Setidaknya aku ingin seseorang menyelamatkanku. Aku tak mau mati seperti ini dan berubah menjadi mayat hidup seperti orang-orang di kota itu.

Jalan panjang kutempuh dengan berlari kecil. Aku tak tahu sekarang berada di mana. Hanya ada puluhan kincir angin yang berbaris di sepanjang bukit.

Tapi rasa letih, lapar dan haus begitu parah. Aku hampir berada di titik terlemahku. Melanjutkan perjalanan tanpa arah seperti ini hanya akan membuatku mati di tengah jalan. Mungkin aku harus mendaki bukit untuk bisa melihat kemana aku akan pergi selanjutnya.

Lalu aku memilih bukit paling tinggi agar semua daratan dapat terlihat dari atas sana. Hingga saat kakiku berhasil memijak puncaknya. Sebuah kenyataan yang selama ini kulupakan kembali kuingat.

Aku berdiri di atas bukit menatap sebuah panorama indah, yakni sebuah perkotaan kecil yang bangunannya dominan terbuat dari beton dan bata. Lalu dari kejauhan tampak sebuah Gunung yang puncaknya mulai mengeluarkan kepulan asap pekat.

Tak berselang lama, gunung itu meletus, awan panas, muntahan lahar-lahar berterbangan memporak-porandakan kota kecil itu.

Disinilah aku mendapatkan kembali semua ingatanku. Alasan mengapa aku berdiri si ujung atap pencakar langit itu adalah tempat dimana aku sedang berdiri saat ini.

Ya, aku yakin pencakar langit tempat aku tersadar itu ternyata dulunya adalah bukit tinggi yang saat ini kupijak. Orang-orang dengan mata hitam pekat yang kutemui di kota itu ternyata adalah korban dari letusan gunung api yang kini tengah kusaksikan kedahsyatannya.

Mereka sebenarnya mencoba menyadarkanku bahwa aku telah lama mati bersama-sama dengan mereka akibat erupsi parah gunung itu. Namun, karena aku tak mau mengakui bahwa aku sudah mati membuatku selalu hidup dalam bayang-bayang sampai sebuah perkotaan dengan pencakar langit dibangun di atas perkotaan yang dulunya telah rata dengan tanah itu.

Bodohnya aku yang lari dari kenyataan selama ini. Aku telah membohongi diriku sendiri dengan beranggapan bahwa aku masih hidup sampai zaman dimana sebuah peradaban modern telah muncul dan kota yang ternyata bernama Pompeii ini telah musnah 79 Masehi yang lalu bersama-sama dengan aku oleh sebuah letusan gunung bernama Vesuvius.

Ya, akhirnya aku bisa kembali ke alamku dengan tenang. Mulai saat ini aku tak lagi hidup dalam bayang-bayang. Itu artinya saat ini kedua mataku pasti telah berwarna hitam pekat.

TAMAT
_________
#story

Note: Jadi cerita ini saya angkat dari kisah nyata kota Pompeii. Namun alurnya saya terinspirasi dari Music Videonya Bastille dengan judul yang sama, yaitu Pompeii.

Jumat, 28 Agustus 2020

Dwayne Johnson pamer kostum black adam

2.912. INFO FILM
.
Pada bagian lengan dan tulang kering terdapat pelindung, kemudian pada bagian dada terlihat logo petir berwarna kuning.
.
"Pria berpakaian hitam datang untuk menghancurkan mereka semua," penggalan penjelasan Johnson terkait video tersebut.
.
Setelah itu, aktor yang memiliki nama julukan The Rock ini juga mengunggah cuplikan film Black Adam. Video berdurasi satu menit itu menjelaskan asal-usul Black Adam.
.
Ia diceritakan berasal dari tempat bernama Kahndaq. Selain terdapat kehidupan manusia pada umumnya, pada tempat itu juga bersemayam kekuatan ajaib.
.
Kebanyakan penduduk di sana tidak memiliki apa-apa, bahkan mereka menjadi budak. Ketika Kahndaq membutuhkan pahlawan, yang muncul justru sosok Black Adam.
.
"Saya melakukan sesuatu yang perlu diselesaikan, dan mereka memenjarakan saya karena itu. Saat ini, lima ribu tahun kemudian, saya bebas, dan berjanji tidak akan ada yang menghentikan saya lagi," kata Black Adam.
.
Black Adam merupakan salah satu karakter DC Comics. Ia pertama kali muncul dalam komik The Marvel Family yang rilis pada Desember 1945 oleh penulis Otto Binder dan komikus C. C. Beck.
.
Tokoh bernama asli Theo Adam ini merupakan penjahat dan salah satu musuh Shazam. Ia memiliki kemampuan kekuatan, kecepatan, dan stamina di atas rata-rata.
.
Hingga kini, belum ada sinopsis resmi film Black Adam dari rumah produksi Warner Bros. Namun, kemungkinan besar film itu akan menjadi genesis karakter Black Adam agar bisa masuk dalam seri film Shazam!.
.
Pada Juli lalu, aktor Noah Centineo dipastikan akan tampil dalam film Black Adam sebagai Atom Smasher. Ia memiliki kemampuan mengontrol struktur molekul, memanipulasi ukuran, kekuatan, serta daya tahan.
.
Karakter Atom Smasher sudah pernah muncul dalam waralaba serial televisi Arrowverse. Pada serial itu, Atom Smasher diperankan Brandon James Routh yang sebelumnya menjadi Superman dalam film Superman Returns (2006).
.
Black Adam disutradarai oleh Jaume Collet-Serra, sementara naskah ditulis oleh Adam Sztykiel. Film ini dijadwalkan rilis pada 2021 mendatang, tapi belum ada waktu pasti.
.
Sumber : cnnindonesia.com
.
#film #movie #movies #movienight #movietime #review #filmreview #moviereview #cinema #action #comedy #fantasy #scifi #historical #adventure #superhero #warnerbros #dc #blackadam #dwaynejohnson #therock #infofilm
.

Cium (Cerita Pendek)


penulis: Raditya Dika

Untuk dua orang yang sedang kencan pertama, berbagi cerita horor mungkin hal terakhir yang seharusnya mereka lakukan. Tapi, inilah yang terjadi dengan Oki dan Rahma. Inilah yang terjadi jika dua orang sudah kehabisan bahan obrolan.
Mereka berdua duduk di ruang tunggu kosan Rahma, sesaat setelah mereka nonton film di Epicentrum Walk. Kosan ini khusus putri, ibu kosnya galak, dan tamu laki-laki hanya boleh sampai di ruang tunggu. Tamu laki-laki bahkan tidak boleh memakai toilet, karena terakhir kali ada pacar seorang penghuni kos numpang buang air besar di toilet tamu, pintunya lupa dikunci. Si tamu sih asik aja jongkok menghadap ke depan pintu berjuang dengan hebat, tapi begitu ada perempuan, penghuni lain, membuka pintu itu, si tamu terkejut sampai berguling di lantai dan si perempuan menjerit membangunkan seisi kos malam itu.
Di atas sofa coklat kosan, dengan kaki naik ke atas, Rahma mulai membuka cerita horor. Cerita yang standar saja, tentang bagaimana Rahma dulu, sewaktu kecil, pernah melihat sosok perempuan berbaju putih melayang di depan jendela kamarnya. Cerita horor tentang penampakan, yang sering kita lihat di forum internet, blog, artikel, yang sering kali kita pertanyakan: nyata atau tidak.
‘Kalau kamu? Ada gak cerita horor?’ tanya Rahma, ingin gantian mendengarkan.
‘Kenapa harus banget cerita horor jam segini?’ tanya Oki, melihat ke arah jamnya. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Rahma merajuk. ‘Film yang kita tonton tadi kurang seram. Aku mau yang seram.’
‘Aku gak tahu ini seram atau tidak, tapi aku ada cerita,’ kata Oki. ‘Masalahnya cuma satu. Kalau aku udah cerita ini, kamu tidak bisa ceritain lagi ke siapa-siapa.’
Rahma mengangguk. ‘Aku janji gak bakal cerita ke siapa-siapa.’
Oki menegakkan duduk. Dia memandang ke wajah Rahma. Dia tersenyum tipis, lalu berkata, ‘Begini ceritanya…’

Aku sekolah di sebuah SMP swasta di Bandung. Waktu itu tahun 2005, ibuku baru saja meninggal, ditabrak mobil ketika dia mengantarkan aku naik motor ke tempat les Bahasa Inggris. Aku selamat, tapi aku mulai jadi anak yang pemurung. Tidak lama setelah itu, bapakku bangkrut dari usahanya, hidup keluarga kami jungkir balik. Hampir setiap minggu ayahku berkata, ‘Kayaknya, kamu bawa sial ke keluarga ini.’
Ayahku terlalu angkuh untuk memindahkan anaknya ke sekolah negeri. Jatuh miskin adalah hal terakhir yang ayah tidak izinkan orang untuk tahu tentang keluarga kami. Menutupi kegagalan perlu usaha lebih keras daripada mencari kesuksesan. Buat aku menutupi bekas pukulan dari ayahku, juga perlu usaha, agar tidak digosipkan oleh satu sekolah.
Di SMP aku berkawan dengan dua orang, yang pertama adalah Kevin, anak seorang pemilik tambak udang di Cirebon, dan Yudi, anak orang kaya yang latar belakang keluarganya masih menjadi misteri. Banyak orang yang bilang bapaknya koruptor, ada juga yang bilang mafia judi, tapi tidak ada yang tahu pasti. Buatku yang penting Yudi masih mau berteman denganku, meskipun di sekolah dia terkenal menyebalkan.
Sepulang sekolah, di bawah langit yang setengah mendung, Yudi bilang kepadaku, ‘’Oki,’ kata Yudi. ‘Mau ikut aku sama Kevin taruhan gak?’
‘Apa?’ tanyaku.
‘Kamu tahu Rumah Kelok?’ tanya Yudi.
‘Tahu,’ jawabku, singkat. Satu sekolah tahu Rumah Kelok, sebuah rumah tua di sebuah belokan, dekat pasar. Rumah itu sudah terbengkalai cukup lama, tidak ada yang tahu siapa pemiliknya, dan menjadi urban legend di bibir warga sekitar. Ada yang melihat sosok di jendela lah, ada yang mendengar jeritan perempuan lah, tapi tidak ada yang punya bukti pasti.
Yudi berkata serius. ‘Kata Aryo anak 3C, di halaman belakang Rumah Kelok, ternyata ada pintu menuju ruang bawah tanah. Mereka sempet iseng lihat-lihat kesana, ngebuka pintunya, dan ada patung cantik di situ.’
‘Patung cantik?’ tanya Kevin.
Yudi mengangguk.
‘Ada sebuah patung, tiduran, di lantai. Patung perempuan cantik. Tapi ya, kamu tahu lah anak 3C kan cemen-cemen, jadi mereka tidak berani turun, lalu pergi. Kata Aryo sih temannya ada yang asmanya kumat, makanya mereka tidak melanjutkan ke bawah. Tapi aku rasa itu cuma alasan.’
‘Terus kita ngapain?’ tanyaku.
‘Kita ke sana dulu saja.’ Yudi lalu melangkah pergi.

Kami memasuki Rumah Kelok melalui lubang di pagarnya. Ini adalah sebuah rumah tingkat dua, dari luar terlihat terlalu simetris, pintu di tengah dengan jendela berbentuk persegi panjang, memanjang ke bawah. Ketika kami memasuki pekarangan, hawa dingin langsung terasa. Bau lumut bercampur jamur terasa menusuk, masuk ke hidung. Ini jelas, rumah yang kesepian, pikirku.
Di halaman belakang rumah, betul, ada satu buah pintu baja yang tertanam di lantai. Yudi mencoba mengangkat pintu tersebut, namun dia kesulitan. Kami perlu bertiga untuk mengangkatnya. Ketika dibuka, langsung terlihat tangga menuju bagian bawah, sebuah ruang kosong lapang di bawah tanah. Kami bisa melihat dengan samar, ada sosok patung perempuan di dalamnya. Tiduran di lantai.
‘Aryo gak bohong,’ kata Yudi.
Aku menelan ludah. ‘Terus? Apa taruhannya?’
‘Kita gambreng aja, gak usah susah-susah,’ kata Yudi.
‘Yang kalah ngapain?’ tanya Kevin.
‘Yang kalah,’ kata Yudi, dia menoleh ke arah sosok patung di lantai. ‘Cium patung itu.’
‘Cium?’ tanya Kevin.
‘Cium. Di bibir,’ jawab Yudi.
‘Ya ampun masa kalau aku kalah ciuman pertamaku sama benda gak bernyawa?’ Kevin terlihat gusar. ‘Sedih amat nih bibir.’
Aku masih melihat patung itu, bentuknya tidak jelas, tapi aku bisa melihat kepalanya, sedikit terkena cahaya. ‘Itu gelap banget sih di bawah.’
Yudi mengeluarkan senter besar dari dalam tas punggungnya, senter merah merk AOKI berukuran jumbo, 15 watt. Yudi sangat niat.
‘Ya udah yuk,’ kataku.
Kami bertiga gambreng, dan seperti nasib yang sedang tidak ramah kepada keluargaku belakangan ini, hari ini pun aku ditimpa sial. Aku satu-satunya dengan telapak yang menghadap ke atas. Untuk gambreng saja aku tidak mampu menang.
Yudi memberikan senter kepadaku. ‘Semangat ya.’
Aku menuruni satu demi satu anak tangga. Bunyi langkah kaki perlahan menggema di ruangan gelap itu. Aku berdiri di depan patung tersebut. Dengan bantuan senter, semua terlihat jelas sekarang. Patung ini cantik sekali, seluruh badannya terbuat dari porselin berwarna putih pucat. Patung ini tidur lurus, mata putih semua, dengan mata yang lebih cantik dari artis sinetron mana pun. Seolah di sebuah dongeng, patung ini seperti seorang putri tidur, menunggu dibangunkan oleh seorang pangeran.
Aku melihat ke arah ujung tangga atas, di sana, Yudi dan Kevin melihat dengan penuh antisipasi. Ini mudah kok, pikirku, tinggal menempelkan bibir ke patung ini. Tapi kenapa aku merasa ragu? Melihatku yang diam saja, Yudi menjerit, ‘Jangan jadi orang cemen!’
Aku lalu menutup mata, secara perlahan aku mencium bibir patung itu. Rasanya dingin dan lembab. Rasanya seperti melakukan sesuatu yang salah. Dengan perlahan aku mengangkat kepalaku. Melihat ke arah patung. Mataku mengarah kepada sebuah kertas kecil yang dipasang di dada patung tersebut, kertas bertuliskan huruf kuno, seperti toge bungkuk yang dijajarkan dengan arah yang berbeda-beda. Aku mencopotnya, memerhatikan tulisan itu, lalu membuangnya ke lantai.
Aku berbalik, dan bersiap untuk pergi keluar. Tantangan sudah selesai. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu. Brak! Pintu jalan keluar ditutup oleh Yudi. Aku berlari ke ujung, menggedor pintu yang dia tutup. ‘Buka pintunya!’
Yudi tertawa. ‘Kamu nyantai dulu aja di situ, kami mau lihat-lihat rumahnya.’
‘Keluarin!’ Aku mulai panik. ‘Keluarin sekarang!’
‘Oki, santai aja, kami janji pasti balik kok. Cuma lihat-lihat sebentar,’ kata Yudi.
‘Paling lama setengah jam, Ki,’ kata Kevin. ‘Kami pasti balik.’
Mereka lalu berjalan menjauh. Aku bisa mendengar suara tawa mereka.
Aku berjalan perlahan ke bawah kembali, mencari jalan keluar lain, mengarahkan senter ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan ini cukup besar, tapi semuanya tembok. Entah apa yang dipikirkan pemilik sebelumnya, meninggalkan patung di ruang tersembunyi seperti ini, di ruang kosong, tanpa ada apa-apa. Aku memicingkan mata, melihat ada huruf yang sama, dengan kertas yang kubuang tadi, terukir di tembok. Aneh.
Lalu, aku tidak akan pernah lupa apa yang terjadi berikutnya. Di heningnya ruangan ini, ada suara gesekan terdengar. Pelan sekali. Sssk. Sssk. Sssk. Aku mengarahkan senter ke belakang. Tidak ada apa-apa. Aku mengarahkan senter ke samping. Tidak ada apa-apa. Tapi bunyi itu terus mengganggu. Ssssk. Ssssk. Ssssk.
Lalu ketika aku mengarahkan senter ke atas. Di situ aku melihat dia. Sebuah sosok manusia, sedang merayap di langit-langit rumah. Tangannya sama panjang dengan kakinya. Aku tidak tahu dia memakai baju atau tidak, tapi rambut panjangnya menutupi hampir semua bagian tubuhnya. Menjuntai dari atas langit-langit. Diam memandangiku.
Sosok itu bergerak pelan. Ssssk. Tangannya menapak di langit-langit, menempel tanpa harus mencengkram. Kakinya bengkok hingga dengkulnya hampir mengenai tulang rusuknya. Kepalanya menoleh ke arahku. Lalu, wajahnya. Oh, wajah itu. Matanya terbuka besar. Pipinya sobek di sebelah kiri, sehingga giginya bisa terlihat meskipun mulutnya tidak terbuka. Dia menarik napas panjang, lalu dia membuka mulutnya, berkata, ‘Halo sayang.’
Aku hendak berlari, tapi kaki tidak bisa bergerak. Aku hendak menjerit tapi badai adrenalin terlalu tinggi sampai membuat mulutku lumpuh. Aku gemetaran. Tidak bisa ngapa-ngapain. Napasku mendera seperti tembakan senapan otomatis. Jantungku memompa terlalu kencang hingga aku mulai pusing.
Ada keheningan beberapa saat, sampai akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya, ‘Kamu siapa?’
‘Aku?’ tanya sosok itu. ‘Aku dosa yang manis, sayang.’
Sosok itu perlahan merayap ke arah tembok, bergerak ke arahku. ‘Aku yang kamu keluarkan dari penderitaan panjang. Yang kamu cium. Yang kamu bebaskan.’
‘‘Kamu hantu?’ tanyaku.
Dia tertawa, ‘Hantu datang dari orang yang sudah meninggal, sayang. Aku datang dari ketiadaan. Aku datang dari mimpi buruk di setiap tidur panjang orang yang serakah.’
Napasku menggebu. Sosok itu maju ke depanku. Wajahnya tepat ada di depan wajahku. Dia menatap mataku tajam. Aroma aneh tercium di hidung, bau yang belum pernah aku temui sebelumnya, campuran antara bunga melati dan bangkai penuh belatung.
‘Kamu mau apa?’ tanyaku.
‘Aku butuh pelayan baru. Untuk hidup sama-sama. Aku butuh perjanjian yang baru, sayang.’
‘Aku?’ Jari-jariku gemetaran tanpa kontrol.
‘Tidak, tidak, tidak.’ Dia lalu berkata, ‘Kamu aku lepaskan, karena kamu yang membebaskanku. Pilih. Di antara dua temanmu itu. Dua bongkah daging berjalan di ujung pintu tadi. Siapa yang akan aku jajah? Siapa yang akan aku hinggapi, rongga di dadanya? Siapa yang memberiku makan?’
‘Makan?’ tanyaku.
‘Tidur terlalu lama akan membuat siapapun lapar, bukan?’ tanya dia kepadaku. Aku semakin gusar. ‘Apa yang terjadi kalau aku memberikan kamu kepada mereka?’
‘Aku akan hidup bersama mereka. Ada dalam diri mereka. Lalu aku akan makan dari cinta di dekat mereka. Dari orang tua mereka. Dari teman mereka. Pelan-pelan. Aku suka makan pelan-pelan. Akan yang ada sakit. Akan ada yang kecelakaan. Akan ada awan hitam di sekeliling mereka pergi. Aku suka makan pelan-pelan.’
Dia tersenyum lebar, lalu melanjutkan, ‘Tapi aku paling suka makan sekaligus rasa yang paling nikmat: rasa cinta yang bersemi di dekat mereka. Setiap perempuan yang jatuh cinta dengan mereka akan aku ambil untuk aku jadikan kudapan. Mmmmmmh.’ Dia menutup matanya, seolah membayangkan sebuah kenikmatan.
Aku masih mendengarkan.
‘Ketika malam tiba aku akan datang ke tempat tidur perempuan itu. Masuk ke mimpinya. Mengunyah nyawanya dari dalam, jengkal demi jengkal. Pelan-pelan, lalu cepat-cepat. Pagi-pagi, perempuan itu akan mati dengan mulut menganga dan mata putih semua. Karena itu yang pantas untuk sebuah kudapan: bagian tersisa untuk dibuang ke tong sampah.
Aku terlihat takut. ‘Kasihan temanku, dong. Hidupnya akan berubah.’
‘Oh jangan khawatir sayang, hidup mereka akan berubah. Mereka akan kaya raya. Keberuntungan akan datang. Karena itu lah kenapa dulu aku dipelihara. Semesta ini adil, sayang: setiap kemalangan harus diseimbangkan dengan kemewahan. Aku bisa memberikan itu. Aku bisa membuat semua mimpi mereka, menjadi lebih indah dari khayalan paling liar sekalipun. Mereka akan lupa rasanya ingin. Mereka akan lupa rasanya butuh. Karena semua, sudah ada.’
‘Hidup yang sempurna?’ tanyaku.
‘Lebih sempurna dari kesempurnaan itu sendiri. Kamu tidak bisa bayangkan, sayang. Kamu tidak bisa.’
Terdengar suara langkah kaki dan suara Yudi dan Kevin sedang mengobrol, mendekat ke arah pintu keluar. Sebentar lagi mereka akan datang.
‘Siapa pun yang kamu pilih, aku turuti,’ kata sosok itu. Dia lalu mendekat, dan mendekat, dan mendekat, hingga matanya hampir menempel mataku. Lalu dia berkata, wajah dimiringkan, setengah tidak sabar, ‘Jadi siapa yang akan membawaku pulang hari ini?’

Oki dan Rahma masih duduk berdua di atas sofa coklat kosan. Rahma memegang tangan Oki yang baru saja selesai bercerita. Dia terlihat puas mendengarkan cerita Oki. Rahma takjut. ‘Itu serem sih. Ceritaku soal sosok putih mah gak ada tandingannya, dengan apa pun yang kamu alami waktu itu.’
Lampu kosan tiba-tiba kedap-kedip. Begitu cara Ibu Kos memberitahu kalau waktu bertamu sudah terlalu malam. Rahma menghela napas panjang, kecewa dia harus berpisah dengan Oki.
‘Baiklah.’ Oki berdiri dari sofa, dia berkata, ‘Itu tandanya aku harus pulang. Makasih buat hari ini ya.’
Rahma tersenyum. ‘Iya, sama-sama.’
Oki berjalan ke arah pintu, dia lalu membalikkan badannya, ‘Kamu gak penasaran? Siapa yang aku pilih? Dia pulang sama siapa?’
Rahma berkata, ‘Ah, itu sih udah ketebak. ‘Pasti Yudi, kan? Secara dia yang paling nyebelin.’
Oki tidak menjawab.
‘Ya kan?’ tanya Rahma, lagi.
‘Misteri adalah elemen terpenting dari sebuah cerita horor, jadi aku biarkan begitu saja ceritanya,’ kata Oki, lalu tersenyum. Rahma hanya mengangguk. ‘Oke, fair juga.’
‘Oh by the way,’ kata Rahma. ‘Makasih udah cerita ya. Aku pegang janjiku tadi, aku janji gak bakal cerita ke siapa-siapa.’
‘Iya, aku tahu kok,’ kata Oki. Dia mendekat, lalu mendekat. Matanya memandang mata Rahma, tajam. ‘Aku tahu kamu gak akan bisa cerita ke siapa-siapa.’

Kereta Hantu UI


Hela Cafeters! Selamat hari kamis manis. Apakah kisah horor ini akan semanis kamis ini? Entahlah, mari kita baca.
Bagi sebagian besar anak UI, pasti pernah mendengar atau bahkan merasakan sendiri kisah kereta hantu. Dikisahkan bahwa pada waktu menjelang tengah malam, terkadang ada kereta yang berhenti di stasiun UI untuk mengangkut penumpang.
Salah satu kisah mengenai kereta hantu ini yang cukup melegenda ialah tentang seorang mahasiswa UI yang ingin pulang ke rumahnya di daerah Tebet. Saat ia menaiki kereta ini, di dalamnya terdapat beberapa penumpang dengan wajah yang pucat. Selama menaiki kereta tersebut, tak ada orang yang saling berkomunikasi.
Setiap penumpang hanya tertunduk diam. Mahasiswa ini merasakan kejanggalan lain, yakni kereta melaju sangat cepat dan tidak berhenti di setiap stasiun. Kereta ini baru berhenti di stasiun Tebet, tujuan dari si mahasiswa UI tersebut.
Saat turun, si mahasiswa memperhatikan tak ada penumpang yang turun di stasiun Tebet dan hanya ia seorang yang turun. Begitu turun, kereta itu langsung melaju kencang tanpa menunggu penumpang lagi.
Ketika si mahasiswa UI ini berjalan menuju keluar stasiun, dia ditegur oleh penjaga stasiun. Si penjaga bertanya-tanya dari mana si mahasiswa ini datang. Si mahasiswa hanya menjawab bahwa ia baru naik kereta dari UI.
Sontak, si penjaga terkejut dan menceritakan bahwa tak ada kereta yang datang. Ia hanya melihat si mahasiswa berjalan di atas rel sampai ke stasiun Tebet. Mendengar ucapan si penjaga stasiun, si mahasiswa pun terkejut lalu pucat. Ia tidak menyangka kalau dirinya baru saja menaiki kereta hantu.
Cerita mengenai kereta hantu UI ini sudah berseliweran di kalangan mahasiswa sejak tahun 1990-an. Saking terkenalnya cerita ini, banyak mahasiswa UI yang enggan naik kereta dari stasiun UI bila menjelang waktu tengah malam.
Gimana kisah kamis manis kali ini? Jangan lupa It’s behind you

-Barbara
Sc : https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-life/kisah-horor-di-kampus-ui/

THERE’S SOMETHING IN THE LADIES TOILET AT WORK


Selama 4 tahun terakhir, aku bekerja sebagai video editor di sebuah perusahaan pakaian wanita. Seperti yang bisa kau bayangkan, sebagian besar pegawainya adalah wanita. Bahkan, aku satu2nya pria di departemenku. Ujung2nya, aku seringkali mendapat ejekan (dalam artian bercanda) dari teman2ku. Namun sejujurnya, aku tak terlalu keberatan. Namun ada satu kekurangan dari tempat kerjaku. Kamar mandi. Oh, maaf, kurasa aku terlalu cepat menceritakannya.

Beberapa bulan lalu, karena tempat kerja kami dirasa kurang luas, bosku memutuskan memindahkan seluruh departemenku (ada 12 orang pegawai, 11 di antaranya perempuan, dan 1 laki2, itu aku) dari kantor pusat kami ke gedung yang lebih kecil di seberang jalan. Aku sangat bersyukur dengan kepindahan ini. Kami benar2 membutuhkan tempat kerja yang lebih luas dan gedung di seberang kebetulan kosong. Tapi sayangnya, kondisi gedung itu tidak terawat. Tidak ada yang menyewa gedung tersebut selama beberapa bulan dan kondisinya benar2 parah. Langit2nya bocor, bahkan ada yang ambruk. Lantainya retak, dan kamar mandinya benar2 dalam keadaan kotor. Namun bosku mengucurkan banyak dana untuk merenovasi gedung tersebut dan setelah jadi, kami bahkan tak bisa lagi mengenalinya (dalam artian yang baik).

Perubahannya benar2 tak bisa dipercaya! Kami memilikicubicle2untuk tempat kami bekerja dengan pot tanaman, kursi yang ergonomis, dan kami juga memiliki ruang lapang dimana kami bisa mendekorasinya sesuai keinginan kami. Kami juga diberikan dapur yang lengkap dengan mesin pembuat kopi (bermerek), blender untuk membuat jus, pemurni air, yah hampir segalanya. Dan gadis2 diberikan kamar mandi mewah lengkap dengan futon dan cermin rias (kau tahu, yang ada lampu2 di sekeliling frame-nya).

Bagaimana dengan kamar mandi pria? Well, bisa ditebak karena aku satu2nya pegawai laki2 di sana, maka kamar mandiku tak semewah mereka. Kamar mandiku hanya berisi wastafel, toilet, dan cermin. Itu cukup bagiku, mengingat di gedung ini hanya aku saja yang menggunakannya.

Namun masalahnya adalah kunci pintunya mudah rusak. Ketika aku keluar dari kamar mandi, pintunya akan menutup sendiri dan mengunci dari luar. Aku tak bisa masuk tanpa bantuan dari bagian maintenance gedung. Hal itu tidak terjadi terlalu sering, namun cukup untuk membuatku kesal. Karena seringkali kejadian itu berlangsung saat kondisi “darurat”, yah kau tahu lah maksudku. Untuk membuat segalanya lebih buruk, bagian maintenance di gedung ini bisa dibilang supersibuk, sehingga mereka baru bisa menangani keluhanku setelah beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Untungnya, para rekan kerjaku (yang semuanya wanita) sangat baik dan mengizinkanku menggunakan kamar mandi wanita apabila kamar mandiku terkunci. Mereka mengatakan mereka tidak keberatan, bahkan agak “terhibur” (entah apa itu maksudnya).

Peristiwa itu terjadi beberapa kali. Aku sebenarnya ingin cuek saja, namun aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. AKu benci menggunakan toilet perempuan. Ini bukan hanya karena ego-ku sebagai laki2. Itu juga bukan karena rasa malu. Namun karena menggunakan kamar wanita rasanya benar2 aneh. Ya, aneh. Seperti kau merasakan ada sesuatu yang membuatmu merinding tanpa bisa menjelaskannya. Saat aku menggunakan kamar mandi wanita, aku merasa bahwa aku tak sendiri.

Aku ingat dengan samar pertama kali aku terpaksa menggunakannya. Hari itu adalah hari dimana kunci kamar mandi pria macet sejak pagi dan aku hampir menghabiskan seharian tanpa pergi ke kamar mandi. Sejam sebelum shift-ku berakhir, aku merasa seperti kandung kemihku akan meledak. Kakiku gemetaran dan gigiku mengigiti bagian dalam pipiku, serta mataku mulai berair. Aku menyadari bahwa pada titik ini, aku hanya punya dua pilihan: menggunakan kamar mandi wanita atau mencari semak2 di luar. Aku lebih memilih memakai kamar mandi wanita, walaupun itu adalah keputusan yang sangat sulit untuk kubuat. Rekan kerjaku (yang sekali semua adalah wanita) berjanji mereka akan berjaga di depan pintu untuk memastikan tidak ada yang masuk sementara aku menggunakan kamar mandi. Mereka juga memeriksa ke dalam untuk memastikan kamar mandi itu kosong sebelum aku masuk.

“Halo?” tanyaku. Tak ada respon.

Pikiran pertama yang terbesit di benakku adalah betapa bagusnya kamar mandi ini. Seperti yang kusebutkan di atas, ada futon dan cermin yang bisa menyala. Aku juga terkejut tidak ada urinal di sana. Hanya ada bilik2. Yah, butuh waktu sejenak untuk benar2 menyadari aku berada di kamar mandi wanita. Rasanya aneh, sebab seumur hidupku, setiap aku memasuki kamar mandi, aku selalu melihat urinal.

Aku memasuki sebuah bilik, menguncinya (walaupun aku tahu takkan ada yang masuk), dan melakukannya. Aku berdiri di sana, mengosongkan kandung kemihku, dan tak mendengar apapun kecuali air seniku yang mengalir ke dalam kloset. Rasanya suasana itu berjalan selama semenit hingga aku mendengar suara lain. Suara itu seperti suara langkah kaki yang sangat ringan. Lalu,

“Ngiiiiik …”

Jantungku berhenti. Itu adalah suara bilik di sampingku terbuka. Ada seseorang yang berada di dalam kamar mandi selain diriku. Mungkin orang itu masuk tanpa sepengetahuan rekan kerjaku di luar atau sejak awal dia memang sudah ada di sini dan rekan2 kerjaku tak mengetahuinya.

Setelah rasa terkejutku reda, perasaanku berganti menjadi rasa malu. Inilah aku, kencing berdiri di kamar mandi wanita (garis bawahi kata “berdiri”), dan seorang gadis malang mendengarnya. Mungkin gadis yang bekerja denganku itu sama malunya denganku. Sial, ini awkward! Entah bagaimana, tanpa aku berpikir, aku mengucapkan, “Uuuh, maaf.” Aku kembali mendengar suara “Ngiiiik” dari suara pintu bilik yang terayun membuka dan suara “Tuk” yang pelan. Setelah aku selesai kencing, membilasnya, dengan lega aku keluar dari bilik. Aku melihat wajah merahku yang tersipu di cermin dan memutuskan untuk mencuci mukaku dengan air. Akupun keluar dari kamar mandi.

Rekan kerjaku bersumpah tak ada yang masuk ke kamar mandi wanita ketika aku berada di dalam. Dan mereka meyakinkanku bahwa kamar mandi itu kosong ketika aku masuk. Aku tak yakin, namun aku berpikir bahwa aku mungkin saja salah dengar. Mungkin itu suara air yang mengalir melalui pipa di dinding dan melupakan semua pengalaman itu.

Aku hanya pernah menggunakan kamar mandi wanita selama dua kali sepanjang bulan itu. Dan setiap kali aku melakukannya, itu adalah pengalaman yang menyiksa. Tiap kali aku sudah tak tahan lagi, aku merasa paranoid, selalu merasa seakan aku sedang menyerang ruang privasi orang lain. Satu kali, ketika aku sedanng mencuci tangan, aku menatap ke cermin dan bersumpah melihat sesuatu bergerak di sudut mataku. Sebuah gerakan cepat di dekat salah satu bilik.

Seperti seseorang (atau sesuatu) dengan cepat berusaha menghindar dari tatapanku. Aku tak bisa menunjukkan dengan tepat dimana gerakan itu berasal, namun aku bisa bersumpah bahwa aku benar2 melihatnya saat itu. Dan aku juga mendengar suara yang familiar.
“Ngiiiiik …” diikuti dengan suara “Tuk.”

Tak heran para wanita selalu ke kamar mandi ramai2, pikirku. Pasti itu membantu mereka agar tidak mendengar suara2 yang aneh.
Secara keseluruhan, menggunakan kamar mandi perempuan adalah pengalaman paling canggung yang pernah kualami. Namun itu bukan pengalaman yang terlalu menakutkan.

Hingga hari ini. Sial! Aku benar2 merinding jika mengingatnya. Hari ini adalah hari terakhir aku menggunakan kamar mandi wanita SELAMANYA. Dan aku akan berusaha supaya tak satupun rekan kerjaku yang menggunakan kamar mandi itu. Hari ini bukanlah hari yang normal, ini adalah hari yang benar2 sibuk. Begitu banyak yang harus kulakukan. Aku terlambat makan (pada titik ini perutku mulai terasa aneh).

Aku punya ribuan deadine yang harus kupenuhi. Dan lebih buruk lagi, tanpa sengaja aku kembali mengunci kamar mandi pria dari luar. Aku mengirim e-mail ke bagian maintenan cedan meneruskan bekerja sepanjang hari, sehingga akupun melupakannya. Aku segera menyadari bahwa aku takkan mungkin pulang ke rumah tepat waktu, terutama karena sebuah proyek tiba2 muncul sekitar satu jam sebelum waktu pulang. Aku sedikit merasa khawatir dengan beberapa hal.

Pertama, jika aku tidak pulang sekarang, aku takkan menemukan tempat parkir di blok apartemenku. Kedua, aku sepertinya mengalami sedikit masalah pencernaan hari ini dan merasa sedikit tak nyaman. Namun aku bekerja secepat mungkin dan masih berharap dapat pulang tepat waktu.

Dan tentu saja, hari dimana kau ingin pulang ke kantor lebih cepat adalah hari dimana (kenyataannya) kau harus bekerja lembur dan pulang terlambat, bahkan paling akhir. Pada pukul 6, gadis terakhir sudah pulang dari kantor dan aku masih belum menyelesaikan proyekku. Pada 7.30, perutku mulai membunuhku secara perlahan.

Perutku mulai berbunyi cukup keras. Ia tidak mengatakan, “Aku lapar!” melainkan “Aku sedang kesal dan akan meledak. Aku akan membuat kekacauan di sini jika kau tak segera ke toilet!”. Yah, singkat kata, aku harus segera menggunakan kamar mandi. Tak bisa ditunda lagi. Aku melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan komputerku untuk memproses tahap akhir proyek videoku. 45 menit. Itu dan ditambah setengah jam berkendara pulang, jelas tidak mungkin aku bisa menunggu selama itu. Aku pergi ke kamar mandi laki2 dan berusaha membukanya.

“Klik!”

Yah, benar. Masih terkunci dan pasti bagian maintenance masih terlalu sibuk untuk memperbaikinya. Aku mengintip kamar mandi wanita dan merasa gugup untuk alasan yang aneh. Namun aku mengabaikannya dan memutuskan untuk masuk saja (perutku memaksaku, aku tak punya pilihan lain).

Aku memasuki kamar mandi wanita dan dengan terburu-buru langsung masuk ke dalam bilik, sambil melepas sabukku ketika aku berjalan.
Aku takkan memberikan detail yang terlalu rinci di sini, namun setelah 20 menit duduk di kloset, aku mulai merasakan horor. Aku mulai mendengar langkah kaki. Aku mendengarkan dengan seksama, bertanya-tanya mungkinkah aku sedang berkhayal.

“Tap … tap … tap ….”

Tidak, aku tak mungkin salah. Aku jelas2 mendengar suara langkah kaki. Tidak, bukan langkah kaki. Seperti suara sesuatu merangkak? Jantungku berdebar kencang dan paru2ku serasa membeku ketika aku menyadari darimana suara itu berasal.

Suara langkah kaki itu tidak berasal dari luar.

Suara itu berasal dari atasku. Tepat dari atasku.

Aku menatap ke atas dan suara itu menghilang. Untuk sesaat, aku tak mendengar sesuatupun namun jantungku berdebar sangat kencang hingga aku mulai merasa sakit. Kemudian,

“Ngiiiiiik …”

Pada saat itulah aku menyadari bahwa selama ini yang kudengar bukanlah suara bilik yang didorong terbuka. Itu adalah suara papan plafon langit2 yang diangkat. Ketika papan plafon yang berada tepat di atasku tergeser membuka, akupun melihatnya. Mataku membelalak dan mulutku menganga ketika aku melihat sesuatu di sana.

Dan ia balik menatapku.

Di dalam langit, sebagian tersembunyi di dalam bayangan, aku melihat sebuah mata. Mata itu mengintip, melihat tepat ke arahku untuk selama sedetik. Kemudian, secepat ia terlihat, secepat itu pula ia menghilang. Hal terakhir yang kulihat adalah suata “Tuk” yang pelan ketika ia meletakkan kembali papan plafon itu di tempatnya.

Apa yang terjadi berikutnya masih sangat kabur dalam ingatanku. Aku tak ingat berdiri dan menarik celanaku. Aku tak ingat meraih kunci mobilku dan keluar dari gedung. Aku hanya ingat detak jantungku yang serasa memukul2 dadaku.

Detak jantungku sangat kencang hingga rusukku terasa sakit. Ketika aku pulang, aku mencoba mengingat kembali apa yang aku lihat. Aku bertanya-tanya, apa yang akan kukatakan pada rekan2 kerjaku besok tentang apa yang kulihat tadi?

Itu jelas wajah seorang laki2, namun wajahnya tak sepenuhnya seperti manusia.